Pesona Tenun Wedani Yang Bertahan

Bermula dari anjuran Sunan Malik Ibrahim untuk menutup aurat dengan menggunakan kain tenun. Kini, kain tenun menjadi penyumbang devisa negara

Seorang perajin tenun khas Wedani menata hasil tenunannya foto : BDIPadang

“Biangkerok” Menurunnya Perajin Tenun

Tercatat, ada 75 perajin tenun khas Wedani pada 2014. Sayangnya, beberapa perajin, satu persatu menutup usahanya. Kini, tersisa sekitar 37 perajin atau berkurang hampir 50 persen.

Menurunnya jumlah perajin dikarenakan ongkos produksi naik, mahalnya bahan baku terutama benang sutera dan pewarna yang masih impor, peyerapan pasar menjadi “biangkerok”-nya.

Pun dengan perajin yang masih bertahan menyiasati kondisi ini dengan berproduksi saat ramai pesanan, yaitu menjelang puasa Ramadhan hingga musim haji. Ada pula yang memadukan bahan baku benang sutra dan benang masris atau benang setara katun untuk menekan biaya produksi.

Baca Juga :  Tanpa Papan Nama Informasi /Banner Pembangunan Pasar Desa Dahanrejo Belum Selesai Sejak 2020

Sementara untuk per lembar kain masih dikisaran Rp 250.000 – Rp 1,5 juta per lembar. Tidak hanya menjual dalam bentuk lembaran, beberapa perajin mengkresikan menjadi busana.

Menurut Ariyatin, bahan baku utama berupa benang sutera 210 nano meter per 5 kilogram sudah mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Sedangkan harga benang sutera naik dibandingkan sebelumnya di kisaran Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta.

Baca Juga :  Permintaan Tenun Khas Wedani Naik 30 Persen

Ariyatin mengatakan, ketika permintaan lesu, perajin mencoba peruntungan di pekerjaan lain seperti bertani, menjadi tukang bangunan dan berdagang. Seperti dirinya yang membuka jasa sewa traktor dan mesin panen padi serta berdagang kedelai.