RADAR JATIM.CO ~ Dalam perjalanan kereta menuju Jakarta, saya berkesempatan duduk berdampingan dan berbincang langsung dengan Habib Taufiq Assegaf. Beliau tengah menuju Jakarta untuk mengisi rutinan majelisnya di wilayah Cililitan, sebuah majelis yang telah lama menjadi ruang dakwah, doa, dan penguatan umat.
Di sela perjalanan yang tenang itu, Habib Taufiq membuka kisah yang berat namun sarat hikmah. Dengan suara yang tertata dan hati yang jernih, beliau menyampaikan bahwa kepergiannya ke Jakarta juga berkaitan dengan langkah hukum yang akan ditempuh: melaporkan dugaan tindak pidana pencucian uang yang menurut penuturan beliau dilakukan oleh seseorang yang dahulu sangat dipercaya.
“Yang paling menyakitkan bukanlah soal harta,” tutur beliau lirih,
“melainkan ketika kepercayaan dijadikan alat untuk memperdaya, bahkan anak-anak saya pun menjadi sasaran.”
Beliau menjelaskan bahwa pola yang digunakan bukan sekadar kebohongan biasa, melainkan manipulasi psikologis yang sistematis, dilakukan dengan cara yang beliau sebut sangat sadis secara moral. Dalam konteks itulah, Habib Taufiq menanggapi berbagai pemberitaan miring yang beredar di sejumlah media.
“Berita-berita itu adalah fitnah,” tegas beliau,
“dan fitnah memang sering menjadi senjata terakhir orang yang kebusukannya mulai terbuka.”
Namun yang paling menggetarkan dari wawancara singkat ini bukanlah kemarahan, melainkan keteguhan iman. Habib Taufiq sama sekali tidak larut dalam dendam. Beliau justru mengajak untuk melihat peristiwa ini sebagai bagian dari sunnatullah: bahwa kebatilan selalu gaduh, sementara kebenaran berjalan tenang.
Dalam perbincangan itu, Habib Taufiq Assegaf juga mengungkap sisi lain yang selama ini nyaris tak terdengar di ruang publik. Beliau menjelaskan bahwa anak-anak beliau telah lama menjadi sasaran permainan psikologis dan finansial, diperdaya dengan narasi kepercayaan, rasa aman, dan kedekatan emosional yang dibangun secara sistematis.
“Mereka dipermainkan pelan-pelan,” ujar beliau,
“hingga tanpa disadari kerugiannya telah mencapai angka miliaran.”
Namun Habib Taufiq menegaskan satu hal penting: mereka tidak pernah diam. Di balik ketenangan yang tampak, ada kerja panjang yang sunyi dan melelahkan. Bersama tim dan kuasa hukum, beliau menyampaikan bahwa selama ini telah dilakukan pengumpulan bukti secara serius dan berlapis.
Upaya itu mencakup:
penelusuran alur transaksi,
pengamanan dokumen,
pemulihan data digital yang sempat dihapus,
serta pengumpulan rekaman percakapan dan rekaman suara yang autentik.
“Ada suara yang tak bisa mengelak,” tutur beliau dengan tenang,
“dan kebenaran tidak bisa dihapus hanya dengan alasan teknologi atau dalih kecerdasan buatan.”
Beliau menambahkan bahwa semua langkah tersebut ditempuh bukan untuk sensasi, melainkan untuk menegakkan keadilan dan melindungi martabat keluarga serta umat. Setiap bukti dikumpulkan dengan kesabaran, karena beliau meyakini bahwa kebenaran tidak memerlukan teriakan—cukup ditunjukkan pada waktunya.
Ketika saya menyinggung bagaimana akhir dari semua ini, Habib Taufiq hanya tersenyum tipis. Tidak ada ancaman, tidak ada sumpah serapah.
“Akan ada penutup yang baik,” kata beliau,
“penutup yang adil, sesuai hukum, dan menjadi pelajaran.”
Beliau lalu mengingatkan kembali pada hukum Allah yang pasti berlaku:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”
(QS. Ibrāhīm [14]: 42)
Di akhir wawancara, saya menangkap satu pesan yang sangat jelas:
kejutan sejati bukanlah pembalasan,
melainkan terbukanya kebenaran secara utuh, sah, dan tak terbantahkan.
Karena pada akhirnya,
kegelapan selalu gaduh di awal—namun selalu kalah di akhir,
dan kebatilan, betapapun lihainya ia bersembunyi, tidak pernah abadi.
Beliau mengingatkan saya pada satu janji Ilahi yang tak pernah ingkar:
قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
“Katakanlah: telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebatilan.
Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 81)
Di akhir perbincangan, Habib Taufiq menutup dengan kalimat yang sederhana namun dalam:
“Kegelapan tidak pernah punya kekuatan sendiri.
Ia hanya bertahan selama cahaya belum dinyalakan.”
Kereta terus melaju, namun kata-kata itu menetap.
Bahwa kebatilan tidak pernah abadi,
dan kebenaran—meski terluka—selalu menemukan jalannya untuk menang.
R.A.A.






