Gresik yang berjuluk “kota santri” ini identik dengan industry sarung tenun. Di samping ada industri rumahan dengan ATBM, di Gresik terdapat pabrik sarung tenun dengan alat tenun mesin (ATM), PT Behaestex.
Wedani hanya satu dari beberapa sentra perajin tenun yang ada di Gresik. Setiap hari, ada total 62 perajin skala kecil-menengah dan 1.500 tenaga kerja yang berjibaku merajut tenun menjadi sarung, kain songket, dan baju menggunakan ATBM.
Anjuran Dari Wali
Sejak abad ke-15 warga di Desa Wedani merajut sarung tenun secara turun-temurun. Yang mulanya pembuatan kain tersebut untuk menutupi aurat sesuai ajaran Wali Songo. Dimana Gresik menjadi salah satu tempat syiar walisongo yaitu Sunan Giri.
Tradisi menenun di Wedani telah berlangsung lintas generasi hingga sekarang dilanjutkan oleh generasi kelima. Budaya ini mulai berkembang saat Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik yang menjadi pemimpin Wali Songo generasi pertama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, mengajari warga setempat cara menenun sarung untuk menutupi aurat saat beribadah shalat.
Berawal dari anjuran agama, tradisi itu berkembang menjadi lapangan usaha. ”Jadi, Sunan Malik Ibrahim itu pengusaha pertama di sini yang mempekerjakan warga setempat,” kata Mas Ariyatin (40), seorang perajin tenun yang kini membina koperasi produsen tenun di Wedani, Koperasi Produsen Wedani Giri Nata.
Lama-kelamaan, setelah terbiasa menenun dan mampu memproduksi secara mandiri, warga tidak lagi bekerja untuk Sunan Malik Ibrahim dan memilih merintis usahanya sendiri. ”Sejak itu, menenun jadi bagian kehidupan sehari-hari di sini,” kata Ariyatin.
Kini, penghasil sarung tenun tersebar di Kecamatan Cerme (Wedani, Ngembung, Dungus, Iker-iker Geger), dan Benjeng (Jatirembe, Pundut Trate), Balongpanggang dan Duduksampeyan. Di Desa Wedani masih ada 25 unit usaha sarung tenun tradisional yang dikelola keluarga.






