Moodboard : Karya Soelistyowati, 2026
Kediri || RADARJATIM.CO – Penelitian bertajuk “Pengembangan Produk Busana dengan Mengangkat Wastra Tenun Kediri” yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Ciputra Surabaya jurusan Fashion Design and Business, tidak hanya menghasilkan inovasi desain busana, tetapi juga membawa semangat baru bagi keberlanjutan industri tenun tradisional di Kabupaten Kediri. Penelitian yang berlangsung selama delapan bulan ini dipusatkan di sentra Tenun Ikat Bandar tepatnya beralamat Sentra Kampung Tenun Ikat Bandar berlokasi di Jalan KH Agus Salim (terutama di sekitar Gang VIII dan Gang IX), Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.
Keberadaan tenun ikat ini, salah satu sentra tenun yang masih mempertahankan proses produksi secara tradisional. Penelitian ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ciputra Surabaya sebagai bentuk komitmen institusi dalam mendukung pengembangan riset yang berorientasi pada pelestarian budaya dan inovasi industri kreatif.
Koleksi Pengerajin Tenun Ikat Kediri, 2026
Penelitian diketuai oleh Dr. Soelistyowati, S.Pd., M.Pd. dan Enrico, S.Sn., M.Ds, sebagai anggota peneliti. Tim juga melibatkan dua mahasiswa Made Anggita Devina Pramesti dan Richelle Jesslyn Yonathan, sebagai asisten peneliti yang turut mendukung proses observasi, eksplorasi desain, hingga pengembangan produk.
Selama berada di Kapung tenun ikat Bandar Kediri, tim peneliti melakukan penggalian data, observasi langsung terhadap proses produksi, berdialog dengan para perajin, serta menggali berbagai potensi yang dimiliki Tenun Kediri. Selain mengeksplorasi motif, teknik, dan filosofi tenun, penelitian ini juga memotret tantangan yang dihadapi para pelaku usaha, terutama terkait regenerasi perajin dan perluasan pasar.
Narasumber Pengerajin Tenun Sentra Kampung Ikat Bandar Kediri, 2026
Dalam kunjungannya, Dr. Soelistyowati, S.Pd., M.Pd yang akrab disapa Ibu Lilis, bertemu dengan sejumlah perajin Tenun Bandar. Dari hasil diskusi tersebut, muncul kesamaan pandangan bahwa keberlanjutan industri tenun tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada hadirnya generasi muda yang bersedia melanjutkan usaha dan melestarikan warisan budaya tersebut.
“Sudah saatnya kita membidik generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan Tenun Kediri. Mereka bukan hanya menjadi konsumen, tetapi juga diharapkan menjadi penerus yang mampu mengembangkan bisnis tenun dengan ide-ide kreatif dan inovatif,” ujar Ibu Lilis.
Menurutnya, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memperkenalkan Tenun Kediri melalui berbagai kegiatan kreatif, seperti pameran, fashion show, kompetisi desain, hingga kolaborasi dengan desainer muda, pelaku industri, dan institusi pendidikan. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan eksposur Tenun Kediri sekaligus membangun kebanggaan generasi muda terhadap wastra lokal.
Menurut Enrico, S.Sn., M.Ds., salah satu upaya memperluas pasar Tenun Kediri adalah melalui promosi yang lebih kreatif dan dekat dengan generasi muda. “Fashion show dan pameran bukan sekadar ajang menampilkan karya, tetapi juga media edukasi untuk memperkenalkan nilai budaya yang terkandung dalam wastra lokal. Melalui pendekatan tersebut, Tenun Kediri dapat diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern sehingga semakin diminati oleh Generasi Z, “ jelasnya.
Hasil penelitian ini melahirkan sebuah koleksi busana wanita yang ditujukan bagi wanita produktif dengan konsep semi formal. Desain mengombinasikan karakter khas Tenun Kediri dengan siluet kontemporer sehingga sesuai digunakan pada kegiatan profesional, pertemuan bisnis, seminar, maupun acara sosial. Pengembangan produk juga secara khusus menyasar Generasi Z sebagai target pasar yang memiliki ketertarikan terhadap fashion yang unik, berkelanjutan, dan memiliki nilai budaya.
Koleksi Desain Karya Soelistyowati, 2026 Ilustrasi Karya Made Anggita Devina Pramesti, 2026
Ketua peneliti berharap hasil riset ini tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan melalui kolaborasi nyata dengan para perajin, pemerintah daerah, komunitas kreatif, serta pelaku industri fashion. Dengan demikian, Tenun Kediri tidak hanya menjadi warisan budaya yang dilestarikan, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk fashion bernilai tambah tinggi yang diminati pasar nasional maupun internasional.
Melalui penelitian yang didukung oleh LPPM Universitas Ciputra Surabaya, diharapkan inovasi desain berbasis wastra lokal dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia sekaligus mendorong regenerasi perajin, sehingga Tenun Kediri tetap lestari dan semakin dikenal oleh generasi masa depan.






