Peneliti UTM Temukan Ikan Sapu-sapu di Sungai Bangkalan, Spesies Asing yang Perlu Diwaspadai

Gambar: ikan sapu-sapu yang ditemukan di salah satu aliran sungai di Kabupaten Bangkalan

BANGKALAN || RADARJATIM.CO – Tim peneliti dari Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Trunodjoyo Madura (UTM), menemukan keberadaan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.) dalam kegiatan penelitian keanekaragaman ikan di salah satu sungai di Kabupaten Bangkalan. Ikan tersebut ditemukan di kawasan sungai Jl. Halim Perdana Kusuma, Kabupaten Bangkalan, dalam kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa. Tim penelitian diketuai oleh Rizka Rahmana Putri, S.Pi., M.Agr., dengan anggota mahasiswa MBKM Riset Riqi Cahaya Putra.

Temuan ini menjadi perhatian karena ikan sapu-sapu merupakan ikan asing yang berasal dari Amerika Selatan dan telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok Pterygoplichthys juga tercatat dalam kebijakan pemerintah Indonesia terkait jenis ikan yang membahayakan dan/atau merugikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Permen KP Nomor 19 Tahun 2020 mengatur larangan pemasukan, pembudidayaan, peredaran, dan pengeluaran jenis ikan yang membahayakan dan/atau merugikan di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia.

Bukan ikan asli perairan Indonesia

Ikan sapu-sapu dikenal masyarakat sebagai ikan yang sering ditemukan di akuarium karena kebiasaannya memakan organisme yang menempel pada permukaan benda di dalam air. Namun, ketika berada di perairan umum, ikan ini dapat menjadi persoalan ekologis karena mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi. Dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai jenis asing invasif menyebutkan bahwa Pterygoplichthys sp. berasal dari Amerika Selatan dan memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan, termasuk perairan dengan kualitas air yang buruk. Jenis ini juga telah dilaporkan tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga :  Jelang HUT PGRI ke-80, Pengurus PGRI Cabang Sangkapura Gelar Rapat Pleno, Semangat Kawal Pendidikan di Bawean

“Temuan ikan sapu-sapu ini menunjukkan bahwa keberadaan ikan asing perlu menjadi bagian dari perhatian dalam pemantauan keanekaragaman ikan di sungai-sungai Bangkalan. Kita perlu mengetahui apakah keberadaannya hanya berupa individu yang terintroduksi atau sudah membentuk populasi yang berkembang di lokasi tersebut,” ujar Rizka Rahmana Putri, S.Pi., M.Agr.

Berpotensi mengganggu ikan lokal

Salah satu alasan ikan sapu-sapu perlu diwaspadai adalah kemampuannya bertahan dan berkembang pada berbagai kondisi lingkungan. Apabila populasinya meningkat, ikan ini berpotensi berinteraksi dengan ikan lokal melalui kompetisi terhadap ruang dan sumber makanan serta perubahan kondisi habitat. Ikan sapu-sapu dilaporkan mengonsumsi atau merusak telur ikan lokal dalam jumlah tinggi dan dapat berkompetisi terhadap sumber makanan dan ruang. Kondisi tersebut menjadi penting untuk diperhatikan di Bangkalan karena sungai merupakan habitat berbagai jenis ikan yang menjadi bagian dari keanekaragaman hayati perairan lokal.

Baca Juga :  SDN Pradah 1 Ikuti Bias Cegah Penyakit

“Kalau populasi ikan asing seperti ini berkembang tanpa pengendalian, tentu perlu diwaspadai karena dapat mengubah interaksi dalam komunitas ikan, rantai makanan, dan kondisi habitat sungai. Namun, untuk mengetahui seberapa besar dampaknya di Bangkalan, masih diperlukan penelitian lanjutan,” jelas Rizka.

Mampu bertahan di air tercemar, tetapi bukan pembersih sungai

Ada anggapan di masyarakat bahwa ikan sapu-sapu dapat berfungsi sebagai “pembersih” sungai karena sering terlihat menempel pada dasar atau permukaan benda di dalam air. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Kemampuan ikan sapu-sapu untuk bertahan pada perairan dengan kualitas buruk tidak berarti ikan tersebut mampu membersihkan air dari pencemaran. Sebaliknya, toleransi terhadap kondisi lingkungan yang buruk memungkinkan ikan tersebut tetap bertahan ketika jenis ikan lain yang lebih sensitif mengalami tekanan lingkungan. Literatur mengenai Pterygoplichthys di Indonesia juga mencatat toleransinya terhadap kualitas air yang buruk dan kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan kondisi perairan. Karena itu, keberadaan ikan sapu-sapu di sungai tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menganggap bahwa kondisi sungai telah bersih.

Baca Juga :  Partisipasi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dalam Sosialisasi SPP-IRT Pada Pelaku Usaha Pangan Rumahan

Mahasiswa ikut mendokumentasikan temuan

Temuan tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman lapangan bagi Riqi Cahaya Putra, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan UTM yang terlibat langsung dalam kegiatan penelitian. Kegiatan seperti ini tidak hanya bertujuan mencatat jenis ikan yang hidup di perairan Bangkalan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai perubahan komposisi komunitas ikan dan keberadaan spesies asing di ekosistem sungai. Menurut tim peneliti, pemantauan secara berkala diperlukan untuk mengetahui perkembangan keberadaan ikan sapu-sapu di lokasi tersebut. Data lapangan juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut mengenai status dan potensi dampaknya terhadap komunitas ikan lokal.

Tim UTM mengimbau masyarakat agar tidak melepaskan ikan peliharaan atau ikan asing ke sungai dan perairan umum. Pencegahan pelepasan ikan asing merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko masuk dan menyebarnya spesies non-asli ke ekosistem perairan alami. Temuan ikan sapu-sapu di sungai Jl. Halim Perdana Kusuma tersebut menjadi pengingat bahwa sungai-sungai di Kabupaten Bangkalan memiliki dinamika keanekaragaman ikan yang perlu terus dipantau secara ilmiah, termasuk terhadap munculnya jenis-jenis ikan asing yang berpotensi mengubah struktur komunitas perairan.