Isu Global Indeks MSCI: Analisis Fundamental dan Teknikal Mati Suri dalam Penentuan Harga Saham

Oleh: Ida Subaida, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha

RADARJATIM.CO ~ Pada tanggal 28 Januari 2026 telah terjadi market crash dalam pasar modal Indonesia dengan penutupan terjadi penurunan IHSG sebesar (-7,35%) dan dilanjutkan penurunan pada beberapa hari berikutnya. Kejadian ini merupakan penurunan IHSG nomor 11 terburuk dalam Sejarah pasar modal Indonesia. Penyebab market crash tersebut adalah adanya pengumuman yang disampaikan oleh MSCI bahwa MSCI menyampaikan kekhawatiran serius terhadap transparansi dan keandalan data kepemilikan saham (free float) di pasar modal Indonesia. MSCI juga mengambil langkah sementara dengan memberlakukan pembekuan kebijakan indeks untuk saham-saham Indonesia yang mencakup tidak menaikkan foreign inclusion factor dan jumlah saham dalam indeks, tidak menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Index (IMI), dan tidak menaikkan klasifikasi saham dari Small Cap ke Standard atau segmen ukuran yang lebih tinggi. Jika tidak terdapat perbaikan dari pasar modal Indonesia terkait peningkatan transparansi data kepemilikan saham, maka MSCI akan menurunkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets atau mengklasifikasi ulang Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Baca Juga :  Ketua Umum PJI : Oknum Polri Tidak Beretika,  Intel Nyusup ke Dalam Pers

Kejadian tersebut menurunkan IHSG sampai saat ini (26 Juni 2026), bahkan pada saat penundaan pengumuman indeks MSCI sampai bulan November nanti, IHSG belum kembali kepada angka sebelum kejadian tersebut. Hampir semua emiten terkena dampak isu global tersebut, baik emiten dengan fundamental baik, emiten dengan teknikal baik, ataupun keduanya. Banyak investor mengalami kerugian karena isu tersebut.

Analisis fundamental pada masa krisis memiliki beberapa keterbatasan diantaranya adalah analisis fundamental dengan basis historical kinerja keuangan perusahaan munkin tidak valid lagi dengan kondisi perusahaan saat ini, saat terjadi krisis. Pergeseran Tingkat ketidakpastian saat masa pasar krisis juga menjadi pertimbangan investor. Sebagai contoh salah satu analisis fundamental yang digunakan untuk menilai harga saham masih tergolong murah atau sudah terlalu mahal adalah rasio P/E. Pada analisis ini harga suatu saham bisa jadi terlihat tampak murah namun sebenarnya sedang mengalami penurunan laba yang berkepanajangan. Namun secara keseluruhan, analisis fundamental bukan tidak sama sekali relevan digunakan saat pasar krisis seperti setelah pengumuman indeks MSCI, namun perlu pergeseran dari asumsi mengejar pertumbungan ke menilai kemampuan perusahaan untuk bertahan dan pulih. Analisis fundamental masih cocok digunakan saat pasar krisis, namun penggunaannya perlu dilakukan beberapa penyesuaian.

Baca Juga :  Disodori Persetujuan Pengalihan Aset, Komisi A DPRD Surabaya Menggelar Pansus

Pada masa pasar yang mengalami krisis seperti saat ini, analisis teknikal memberikan sinyal yang sering gagal karena volatilitas saham yang tinggi yang membuat banyak indicator dalam analisis teknikal memberikan sinyal palsu (false breakout). Berita (news) juga dapat mengalahkan pola teknikal. Pengumuman Indeks MSCI dapat membuat harga bergerak tajam tanpa mengikuti pola sebelumnya. Beberapa indikator dalam analisis teknikal menunjukkan “saatnya membeli” pada hampir semua perusahaan bukan menunjukkan “saatnya membeli” yang sesungguhnya, melainkan harga saham memenuhi kriteria indikator tersebut karena pergerakan yang tajam karena isu global tersebut. Analisis teknikal tetap relevan saat kondisi psar krisis, namu sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya alat analisis. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, memerlukan lebih banyak alat analisis untuk dapat bertahan dan memperoleh keuntungan di pasar saham.

Baca Juga :  Penegakan Hukum Konservasi : Antara Kepatutan dan Keadilan dalam Kasus Darwanto Pelihara 6 Landak

Penambahan indikator atau faktor yang dipertimbangkan dalam pengambilan Keputusan investasi dapat menambah keyakinan investor dan meningkatkan peluang mendapatkan keuntungan. Analisis fundamental dapat digunakan perusahaan untuk membantu memilih perusahaan yang berkualitas dengan memilih perusahaan yang memiliki prospek dan kondisi keuangan yang kuat. Analisis teknikal dapat digunakan untuk memabantu menentukan waktu masuk dan keluar dari saham perusahaan yang dipilih. Analisis transksi dapat juga digunakan untuk membantu investor/trader membantu membaca perilaku pasar secara lebih real time yang biasanya menunjukkan volume atau tekanan jual dan beli suatu saham. Analisis akan lebih baik jika juga dilengkapi dengan analisis makroekonomi, bahkan analisis global yang diduga dapat mempengaruhi pergerakan harga saham untk membantu memahami konteks krisis secara keseluruhan.