BANGKA || RADARJATIM.CO ~ Menjadi jurnalis bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup. Bagi saya, dunia jurnalistik adalah jalan pengabdian yang telah saya tekuni sejak kecil, berawal dari sebuah mimpi sederhana yang tumbuh di kampung halaman.
Saya lahir di Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dari pasangan Abu dan Nadimang. Kini keduanya telah berpulang ke rahmatullah. Saya merupakan anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara, dengan empat saudara perempuan.
Kecintaan terhadap dunia jurnalistik mulai tumbuh ketika saya masih duduk di bangku kelas IV SD Negeri 3 Manggar. Pada masa itu, hampir setiap pulang sekolah maupun setelah belajar pada malam hari, saya selalu menyempatkan diri mendengarkan siaran berita Radio Republik Indonesia (RRI).
Di tengah keterbatasan teknologi saat itu, RRI menjadi jendela informasi yang membuka wawasan sekaligus menumbuhkan cita-cita saya untuk menjadi seorang jurnalis.
Usai menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Manggar, saya terus berusaha mewujudkan impian tersebut. Disertai doa kepada Allah SWT, pada tahun 2007 saya memberanikan diri melamar sebagai kontributor di RRI Sungailiat yang saat itu dipimpin Kepala Stasiun Darmawati.
Tidak lama kemudian, saya menerima panggilan untuk bergabung. Saya dipercaya meliput wilayah Kabupaten Belitung, ketika Belitung masih menjadi satu kabupaten sebelum pemekaran. Amanah tersebut menjadi awal perjalanan panjang saya di dunia jurnalistik.
Saat menjalankan tugas, saya melihat masyarakat Belitung masih kesulitan mengakses siaran RRI Sungailiat maupun RRI Pusat. Kondisi itu mendorong saya untuk menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Belitung agar masyarakat dapat menikmati layanan informasi publik yang lebih baik.
Melalui koordinasi yang intensif antara RRI Sungailiat dan Pemerintah Kabupaten Belitung di bawah kepemimpinan Bupati Darmansyah Husein, akhirnya pada tahun 2010 dibangun pemancar atau menara siaran RRI di Belitung.
Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat Belitung mendengarkan siaran RRI Sungailiat maupun RRI Pusat hingga sekarang. Bagi saya, itu menjadi salah satu pencapaian yang membanggakan dalam perjalanan sebagai jurnalis.
Perjalanan sebagai jurnalis tentu tidak selalu mudah. Saya menyaksikan perubahan besar dunia media, mulai dari era radio sebagai sumber utama informasi, hadirnya surat kabar seperti Pos Belitung dan Babel Pos, hingga berkembangnya media digital seperti saat ini.
Selama menjalankan profesi ini, saya juga merasakan berbagai tantangan. Tidak sedikit pihak yang memandang wartawan hanya mencari kesalahan pejabat atau pihak tertentu.
Menurut saya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Setiap jurnalis memiliki integritas, cara pandang, dan tanggung jawab yang berbeda. Memang ada yang menjadikan profesi ini semata-mata sebagai pekerjaan, tetapi banyak pula yang menjalankan tugas berdasarkan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi pada tahun 2011 ketika saya memberitakan kasus dugaan korupsi yang melibatkan seorang mantan kepala daerah di Belitung Timur.
Pemberitaan tersebut membuat saya menerima ancaman dari keluarga pihak yang diberitakan. Namun, saya tetap menjalankan tugas secara profesional dan menjaga kredibilitas RRI sebagai lembaga penyiaran publik.
Bagi saya, seorang jurnalis harus berpegang teguh pada prinsip bahwa yang benar harus dikatakan benar, dan yang salah harus tetap disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab kepada publik.
Hingga kini, komitmen itu tidak pernah berubah. Setelah melalui berbagai perjalanan di dunia jurnalistik, saya bergabung dengan media siber Lampiran.id yang berkantor pusat di Surabaya.
Di bawah kepemimpinan Muhammad, saya bertekad terus berkontribusi menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia maupun pembaca di berbagai belahan dunia.
Bergabung bersama Lampiran.id menjadi babak baru dalam perjalanan jurnalistik saya. Sebagai media siber yang terus berkembang, Lampiran.id mengusung semangat menyajikan informasi yang cepat, akurat, berimbang, dan terpercaya.
Media ini juga berkomitmen mengangkat berbagai peristiwa dari daerah hingga tingkat nasional, sekaligus menghadirkan informasi yang memberikan edukasi, inspirasi, dan manfaat bagi masyarakat luas. Saya berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan Lampiran.id dalam menjaga marwah pers dan memperkuat kepercayaan publik terhadap media yang profesional.
Bagi saya, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan. Jurnalistik adalah amanah untuk menyampaikan fakta, menjaga kepercayaan publik, serta menjadi bagian dari perjalanan sejarah melalui setiap berita yang ditulis.
Saya meyakini, selama pena masih mampu menulis dan hati tetap berpihak pada kebenaran, tugas seorang jurnalis tidak akan pernah berakhir. Bersama Lampiran.id, saya akan terus mengabdi melalui karya jurnalistik yang memberi manfaat, mencerdaskan masyarakat, serta menjaga nilai-nilai profesionalisme pers Indonesia.
Tentang Penulis
Abdul Kadir merupakan jurnalis yang memulai karier di RRI Sungailiat pada 2007. Selama menjalankan profesinya, ia telah meliput berbagai peristiwa penting di Kepulauan Bangka Belitung dan tetap berkomitmen menjalankan tugas jurnalistik secara profesional. Kini ia aktif sebagai jurnalis Lampiran.id, dengan fokus menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, serta berpihak pada kepentingan publik.
(Red)






