Gresik | RADARJATIM.CO~Pengangkatan perangkat desa saat ini dilakukan dengan proses ujian atau tes. Berbeda dengan masa silam, pengangkatan perangkat desa banyak dilakukan berdasarkan kedekatan atau kekerabatan dengan kepala desanya. Istilah KKN benar-benar mengakar sampai ke pemerintahan terendah di tingkat desa. Selain unsur kekerabatan, pengangkatan aparatur desa didasarkan pula pada pertimbangan pendukung atau militansi saat Pilkades berlangsung, bahkan di saat Pilkades digeber sudah ada teken kontrak di bawah tangan atau bargaining berupa pesanan dari pendukung untuk menjadikan si “Anu” sebagai salah satu perangkat desa. Jelas terlihat di balai desa saat duduk bersama adik, kakak, sepupu, dua pupu, mereka yang masih bau-bau famili, hingga pendukung yang dianggap “vote getter” atau peraup suara saat Pilkades berlansung.
Saat ini, pengangkatan aparatur desa sudah tidak lagi menggunakan sistem kekerabatan atau militansi, akan tetapi didasarkan pada kompetensi dasar materi tes yang diujikan kepada peserta.Sistem ujiannya pun menggunakan CBT (Computer Based Test) atau tes bebasis komputer dibawa kendali operator atau proktor profesional yang benar-benar berkomitmen untuk menciptakan ujian yang fair. Sang operator, sebut saja Bapak Mardiono, S.Sos atau yang akrab disapa Pak Dion Bawean di kedinasan menuturkan bahwa hasil murni tanpa ada titipan atau kecurangan. Berbeda dengan sistem PBT (Paper Based Test) yang pernah dihelat di beberapa desa di Sangkapura dulunya masih beraroma permainan karena masih ada celah atau peluang melakukan kecurangan lewat kebocoran soal. Faktor nasib memang tetap turut menjadi penentu dari kekuatan spiritual masing-masing peserta.
Seleksi P3D Desa Gunung Teguh digeber pada hari Senin, 14 Pebruari 2022 sejak pukul 07:00 WIB hingga selesai. Sesuai undangan memang tertulis 07:00 WIB dimulainya tes tersebut. Akan tetapi, pihak panitia seleksi masih membriefing peserta dan menyampaikan beberapa hal terkait pelaksanaan tes sehingga baru kelar dimulai pukul 08:00 WIB. Tes seleksi P3D ini diikuti oleh 13 peserta dengan rincian 7 perempuan dan 6 laki-laki. Bidang aparatur desa yang diperebutkan hanya satu kursi pemerintahan desa yakni Bidang Kesra atau Kesejehteraan Rakyat. Tes dilaksanakan di laboratorium komputer SMA Negeri 1 Sangkapura. Berdasarkan keterangan operator atau proktor ujian P3D percis seperti UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), hanya saja offline atau tidak online murni.
Sebanyak 13 peserta tes P3D asal Desa Gunung Teguh rata-rata masih muda beliau. Ada beberapa yang sudah berkeluarga. Mereka mengenakan kemeja putih dengan kombinasi celana atau rok hitam seperti layaknya mahasiswa UT atau mahasiswa baru di saat menjalani OPSPEK. Beberapa ketentuan yang sudah menjadi aturan main diterapkan dengan tegas. Peserta tidak diperkenankan membawa Hand Phone (HP). Alat tulis pen dan kertas disediakan oleh panitia untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kejadian unik dan sedikit membuat operator harus tersenyum saat para peserta terlihat menggunakan kertas oretan yang sudah dibagikan pada akhirnya dialih fungsikan sebagai penutup monitor takut hasil atau nilainya ketahuan peserta lainnya.
Hasil tes yang amat mendebarkan denyut jantung para peserta setelah waktu dinyatakan habis oleh operator diprint-out. Sebagai bukti autentik hitam di atas putih pihak panitia dan operator membuat berita acara yang disaksikan oleh pihak kepolisian, Koramil, serta panitia pelaksana. Peserta masih tetap belum tahu apakah perolehan nilainya sesuai grade yang ditetapkan yakni 60 sudah bisa lulus dan lolos karena masih memperhatikan keseluruhan perolehan nilai dari peserta. Ternyata hanya ada dua peserta yang melampaui grade disebut yakni 63 dan 67. Soal nama masing-masing peserta yang lulus dan lolos masih belum tahu karena oleh panitia dimasukkan ke amplop. Hasil tersebut akan diantarkan ke rumah masing-masing peserta. “Berdebar hati berdebar…!”
Pelaksanaan ujian P3D Desa Gunung Teguh yang amat fair ini akan menjadi angin segar bagi anak-anak atau generasi muda, terutama kaum pelajar yang masih bersekolah atau berkuliyah. Mereka akan bertambah semangat belajar untuk meraih cita-citanya bila proses seleksi jabatan apa saja di pemerintahan hingga pada level terendah di pemerintahan desa dilakukan dengan amat fair atau jujur. Desa Gunung Teguh akan menjadi “pilot project” kejujuran yang akan menjadi desa percontohan dalam rekrutmen aparatur desanya. Selamat dan sukses kepada peserta yang lulus dan lolos untuk mengisi perangkat desa di bidang Kesra Desa Gunung Teguh. Panitia penyelenggara patut dijempoli!
(Sugri)






