Pengelolah WBS Terkesan Tidak Transparan Terkait  Retribusi Tiket Masuk Pengunjung

Gresik {radarjatim.co~ Di hari ketiga Hari Raya Idul Fitri 1443 H/ 2022 M selalu dijadikan ajang oleh masyarakat Bawean untuk berekreasi bersama keluarga ke tempat-tempat wisata yang berada di Pulau Bawean, termasuk ke Wisata Bahari Selayar (WBS). Daya tarik destinasi tersebut terletak pada keindahan panorama alamnya yang masih perawan.

Wisata Bahari Selayar berada di Dusun Taobat Desa Sungai Rujing Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik Jawa Timur. Objek wisata tersebut banyak dikunjungi para pesuka wisata dari berbagai penjuru pelosok di dua kecamatan yang berada di Pulau Bawean.

Para pengunjung banyak mengeluhkan setelah datang berkunjung ke WBS. Mereka menuturkan bahwa saat masuk ke lokasi wisata tersebut dikenakan tarif perorang sebesar Rp.5000 untuk dewasa dan anak-anak Rp.3000 tanpa diberikan karcis sebagai bukti tanda masuk. Ungkap salah satu pengunjung yang tidak mau identitasnya disebutkan asal Dusun Gunung Desa kecamatan Tambak, Rabu (4/5)

Berdasar pengaduan tersebut awak media Radarjatim.co langsung mengkonfirmasikan kepada ketua Pokdarwis, Muhet untuk dimintai penjelasan.

Baca Juga :  Menparekraf Dorong Ngawi Uji Petik PMK3I

Muhet menegaskan bahwa pihaknya sudah pernah mengajukan ke pihak BPPKAD Kabupaten Gresik tentang masalah karcis, namun pihak berwenang tersebut mengatakan dalam pemulihan ekonomi di masa pandemi ini tempat wisata diperbolehkan untuk tidak memberikan PAD melalui karcis masuk atau bebas pajak. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan hasil atau pendapatan dari objek wisata tersebut , ungkapnya.

“Pihaknya sudah sepakat akan memberikan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil penjualan tiket masuk ke WBS, namun karena untuk pemulihan ekonomi hal itu ditolak dan akhirnya pihak pengelolah tidak menyediakan tiket masuk yang cukup untuk para pengunjung.

Muhet menambahkan untuk pembangunan pengembangan WBS serta perawatan itu sendiri pihaknya tidak pernah menerima sepeserpun anggaran dari Pemerintahan Desa, apalagi dari Dana Desa, tegasnya.

Di lain tempat awak media mencoba mengklarifikasi hal tersebut kepada Kepala Desa (Kades) Sungairujing, Zaenal Abidin melalui telepon selulernya Via aplikasi WhatsApp, menanyakan perihal dana awal yang untuk pengelolahan WBS supaya bisa dijadikan tempat wisata yang layak untuk di kunjungi oleh masyarakat umum.

Baca Juga :  Miejol Hadir di Manukan Surabaya Outlet yang ke 7

Zaenal Abidin, Kepala Desa Sungairujing membenarkan adanya tempat wisata yang bagus pihaknya dan pemerintah desa sudah menggelontorkan Dana Desa di awal untuk pembenahan hanya saja berapa jumlah nominal pastinya sudah tidak ingat lagi.

“Dalam pembenahan di awal dibukanya WBS pihaknya juga ikut terlibat dengan mengerahkan perangkat Desa dalam pembangunan tempat-tempat penunjang WBS yakni tempat foto Selfi, Gazebo dan salah satu warung milik Bumdes. Dalam hal ini Pemerintah Desa tidak ikut serta mengelolah WBS karena sudah menjadi tanggung jawab Pokdarwis,” cetusnya.

Pemerhati Wisata Bawean berinisial A, menyayangkan atas ketidaktransparanan dari pihak terkait dalam pengembangan WBS yang sudah terpilih menjadi juara dua di Festival Award 2021 Kabupaten Gresik. Pada bagian penunjang WBS itu sendiri masih banyak dikeluhkan oleh para pengunjung seperti halnya toilet atau kamar mandi yang masih kurang memadai, ungkapnya.

Baca Juga :  Wisata Bahari Selayar Ketamuan Bupati Lumajang

Salah satu pengunjung berinisial Ar mengatakan bahwa untuk penjualan tiket masuk seharusnya tetap diberikan karcis kepada pengunjung agar dapat diketahui berapa besar pendapatan yang diperoleh setiap harinya, Apalagi anggaran pertama untuk pembenahan WBS menggunakan Dana Desa untuk kesejahteraan dan percepatan perekonomian masyarakat setempat.

“Diduga pihak pemilik lahan sekaligus menjadi pengelolah dari WBS yang tidak lain adalah Sekdes Sungai Rujing, Ismail diduga ikut terlibat dan bagi hasil dengan pihak Pemdes Sungai Rujing tanpa sepengetahuan dari pihak Ketua Pokdarwis selaku pengelolah WBS itu sendiri, dimana para pengunjung masih ditemukan masuk WBS tanpa adanya bukti karcis,” ungkap pemerhati wisata Bawean.

Salah satu pihak pengelolah WBS, Ismail menuturkan bahwa sebenarnya tiket masuk itu ada, akan tetapi karena pengunjung membludak diluar dugaan maka tiket masuk yang disediakan oleh pihak pengelolah tidak mencukupi dan untuk sementara waktu pengunjung tidak diberikan tiket masuk (Karcis), Kamis (5/5/2022)

Fairi ~ Rj