WWW.RADARJATIM.CO~Agama sebagai sebuah tatanan moral tentu mengajak pengikutnya ke dalam kehidupan yang diidealkan oleh kitab suci sebagai rujukan. Misalnya ajaran puasa sebagai bukti keimanan seorang muslim, secara sosial dimaksudkan untuk menguatkan sensitifitas terhadap sesama. Selama 30 hari, setiap muslim dilatih agar mengendalikan hawa nafsu dan memupuk kepedulian terhadap nasib si miskin papa. Namun faktanya justru terjadi sebaliknya. Momen Ramadhan dan Iedul Fitri justru menjadi ajang munculnya perilaku konsumtif. Fokus ummat teralihkan dari upaya meraih taqwa menjadi menjadi upaya memenuhi hasrat “berbelanja” di luar kebutuhan pokok. Ironisnya hal ini tidak saja terjadi di masyarakat kalangan atas, namun juga di kalangan bawah.
Dilansir dari website Indonesia Digital Association (IDA), lebih dari 50% konsumen Indonesia menghabiskan lebih dari 20% pengeluaran tahunannya untuk berbelanja online di bulan Ramadan dan menjelang IdulFitri. Google Trends menunjukkan pada tahun 2021 di bulan pra-ramadan sampai pasca Idulfitri, topik yang paling banyak dicari di Indonesia mengenai fashion dan smartphone dengan persentase pencarian mencapai 600%. Fakta-fakta ini menjadi penjelas perilaku yang sudah dianggap lumrah.
Ketika menjelang Hari Raya Idulfitri tempat-tempat perbelanjaan dipenuhi oleh masyarakat. Barang yang dibeli umumnya baju, sepatu, smartphone, makanan kering, hingga moda transportasi baru. Sudah menjadi budaya ketika lebaran kurang afdal rasanya tanpa baju baru dan berdesak-desakan di mall atau pasar.
Menurut pandangan Baudrillard (1989), perilaku konsumtif dewasa ini tidak terlepas dari perkembangan budaya kapitalisme, yang menempatkan konsumsi sebagai titik pusat kehidupan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Kapitalisme merupakan suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa.
Perkembangan kapitalisme lanjut semenjak tahun 1920-an menunjukkan perubahan dramatis karakter produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer. Bila dalam era kapitalisme awal, produksi menjadi faktor dominan yang membentuk pasar kapitalisme kompetitif,
Maka dalam era kapitalisme lanjut, konsumsi adalah determinan pasar kapitalisme yang juga berubah semakin bersifat monopoli. Sejak tahun 1960-an, kedudukan dominan faktor konsumsi bahkan tidak hanya dalam kawasan ekonomi. Lebih dari era – era sebelumnya, kini konsumsi menjadi motif utama dan penggerak realita sosial, budaya bahkan politik (Kellner, 1994: 3).
Realitas kehidupan di atas kalau dianggap sebagai problem dakwah, maka seharusnya orientasi dakwah tidak hanya pada aspek ajaran, namun harus diperhatikan juga bagaimana menciptakan sebuah kondisi sosial-budaya dengan mengacu pada kehidupan nyata sehari-hari ummat.
Pemahaman yang lebih utuh terhadap fenomena masyarakat kontemporer akan menjadikan upaya dakwah menjadi lebih relevan. Dakwah retorika yang selama ini mendominasi aksi para da’i penting ditindaklanjuti dengan berbagai aksi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap muslim terutama yang masuk kategori sejahtera, juga para pejabat publik seharusnya masing-masing menjadi da’i dalam pengertian contoh perilaku yang diajarkan Islam, bukan sebaliknya justru menjadi contoh perilaku hedonis yang tidak terpuji.
Hal ini penting untuk ditekankan karena secara nyata dapat dilihat bahwa perilaku pamer kekayaan fungsional terhadap berbagai persoalan sosial dewasa ini.
Marilah kita gunakan sebaik-baiknya momentum Ramadhan kali ini untuk merenungkan kembali berbagai perilaku kita yang tanpa terasa justru menjauh dari tujuan puasa yaitu taqwa.
(Surabaya, 27/03/2023 M, 05 Ramadhan 1444 H.)






