Proyek Rumah Apung di Desa Telukjatidawang Diduga Dikerjakan Asal-asalan

Gresik [Radarjatim.co~ Lepasnya rantai penahan rumah apung pulau Cina desa Telukjatidawang kecamatan Tambak pulau Bawean masih menimbulkan tanda tanya besar bagi sebagian kalangan warga Bawean.

Bagaimana tidak, proyek rumah apung itu konon dibangun dengan menghabiskan dana sebesar Rp 845 juta melalui anggaran APBD kabupaten Gresik tahun 2019, namun banyak pihak menilai kondisi fisik konstruksi bangunan terkesan asal-asalan dan banyak kejanggalan.

Menurutnya peristiwa hanyutnya rumah apung menandakan bobroknya kualitas konstruksi bukan karena faktor alam saja, terbukti keramba ikan yang hanya terbuat dari kayu dan tong palstik saja masih kokoh dan tak bergeser sedikitpun, padahal posisi keramba ikan justru lebih ekstrim terkena hempasan golombang karena posisinya berada di sebelah utara rumah apung.

Seharusnya Kata anggota BPD desa Telukjatidawang, Muhaimin, bangunan dengan anggaran sebesar itu bisa dibangun lebih kokoh sehingga lebih tahan terhadap terjangan gelombang.

“Sayang sekali buang-uang anggaran saja, seharusnya dengan anggaran yang sebesar itu konstruksinya bisa lebih bagus, masak kalah tangguh dengan keramba, coba lihat rantai dan baut juga sudah berkarat, gabusnya juga sangat rapuh, “imbuhnya.

Sementara itu menurut kepala desa Telukjatidawang kecamatan Tambak, Fahrurrazi mengaku tidak mengetahui secara detail terkait spesifikasi rumah apung tersebut, karena pihak pelaksana tidak pernah memberikan dokumen apapun.

“Kalau saya selaku kepala desa sama sekali tidak mengetahui, karena pihak pelaksana proyek tidak pernah memberikan pemberitahuan ataupun sejenisnya, kecuali hanya minta izin penempatan itupun melalui lisan saja, “terang Kades.

Sementara ini Dinas PUTR Gresik, Kabid Cipta Karya, Tri Handayani Sebagai Pengguna anggaran proyek rumah apung di Bawean dikonfirmasi Radar Jatim melalui pesan Whats app hingga berita ini ditayangkan belum meresponnya, Jum’at (11/12)
(Red-bersambung)