Probolinggo || RADARJATIM.CO ~ Kabar suka datang dari kawasan Gunung Argopuro, Jawa Timur. Seorang pendaki asal Kabupaten Sumenep, Madura, bernama Jaelani meninggal dunia setelah kondisi kesehatannya menurun saat melakukan pendakian.
Jaelani dilaporkan meninggal dunia pada Rabu, 5 Agustus 2026, di kawasan Rawa Embik, salah satu titik dalam jalur pendakian Gunung Argopuro.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Nur Patria, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut korban mengalami penurunan kondisi kesehatan sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Korban ini mengalami hipotermia, kondisi kesehatannya terus menurun sejak 4 Agustus dan meninggal dunia pada 5 Agustus,” kata Nur Patria, Jumat (7/8/2026).
Proses evakuasi korban dilakukan secara bersama-sama oleh petugas pos dan para relawan. Evakuasi berlangsung hingga Kamis, 6 Agustus 2026, sebelum korban berhasil dibawa turun melalui jalur pendakian.
Setibanya di Pos Bremi, korban kemudian langsung dibawa ke Rumah Sakit Waluyo Jati, Kecamatan Kraksaan, untuk mendapatkan penanganan medis.
Nur Patria mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Jaelani merupakan seorang pendaki yang telah memiliki kelengkapan surat kesehatan.
Namun, kondisi tubuh korban mengalami penurunan ketika berada di kawasan Rawa Embik.
“Saya mendapat informasi di media sosial bahwa korban memang pendaki, surat-surat kesehatan lengkap, namun ketika sampai di Rawa Embik seketika kondisi kesehatannya menurun terus dan akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius bagi para pendaki. Sebab, kondisi alam di kawasan Gunung Argopuro saat ini perlu diwaspadai, terutama karena adanya fenomena bediding atau penurunan suhu udara yang cukup drastis.
Kondisi suhu dingin ekstrem dapat menjadi ancaman apabila pendaki tidak memiliki kesiapan fisik maupun perlengkapan yang sesuai.
Karena itu, BKSDA Jatim meminta pendaki memahami kondisi tubuh dan karakteristik jalur yang akan dilalui.
“Untuk sekarang suhu di Cikasur sampai Taman Hidup itu bisa sampai 5 derajat sampai 7 derajat,” tutur Nur Patria.
Menurutnya, persiapan pendakian tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Pendaki harus mengetahui secara detail berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi sebelum memasuki kawasan pegunungan, termasuk kesiapan fisik, perlengkapan, serta kondisi jalur dan cuaca.
BKSDA Jatim juga mengingatkan agar pendaki tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi tubuh maupun alam sedang tidak memungkinkan.
Keputusan untuk berhenti atau turun bukan berarti gagal mencapai tujuan, melainkan bagian dari upaya menjaga keselamatan.
Para pendaki harus saling mengingatkan dan tidak boleh memaksakan diri,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pendaki bahwa keselamatan harus ditempatkan di atas ambisi mencapai tujuan.
Gunung dengan segala keindahannya juga memiliki risiko yang harus dihadapi dengan persiapan dan kewaspadaan.
Pendaki perlu mengenali batas kemampuan tubuh, membawa perlengkapan yang sesuai dengan kondisi cuaca, serta terus memantau perubahan situasi selama berada di jalur.
Tragedi yang menimpa Jaelani di Gunung Argopuro menjadi duka sekaligus pelajaran.
Pendakian bukan hanya tentang menaklukkan ketinggian, tetapi juga tentang kemampuan membaca alam, menjaga diri, dan mengambil keputusan tepat ketika kondisi tidak lagi bersahabat.
(Red)






