JOMBANG || RADARJATIM.CO – Ada cara berbeda yang dipilih Sumber Wandhe untuk memperkenalkan kopi mereka. Alih-alih mengandalkan promosi secara masif, UMKM yang berada di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, tersebut memilih membangun kepercayaan melalui kualitas produk yang konsisten. Menurut Moch. Sobari Karim (pemilik Sumber Wandhe Coffee & Eatery), kualitas adalah cara terbaik untuk membangun kepercayaan sekaligus memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang.
Strategi tersebut menjadi modal penting bagi Sumber Wandhe untuk terus berkembang. Namun, kualitas saja tidak cukup. Di tengah persaingan usaha yang semakin dinamis, inovasi juga dibutuhkan agar produk lokal memiliki identitas yang kuat, mudah dikenali, dan mampu membuka peluang pasar yang lebih luas.
Semangat inilah yang kemudian menjadi perhatian Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema IMRIS (Implementasi Hasil Riset) Hibah Internal Tahun Anggaran 2026, tim hadir untuk mendampingi Sumber Wandhe melalui program bertajuk “Penguatan Identitas Visual dan Kemitraan Strategis UMKM Kopi Sumber Wandhe untuk Meningkatkan Daya Saing Produk Lokal.”
Kegiatan ini diawali dengan observasi lapangan pada 14 Juni 2026. Tim berdiskusi langsung dengan Karim, sekaligus melakukan pengisian kuesioner untuk melihat lebih dekat potensi dan kebutuhan pengembangan usaha.
Dari pertemuan tersebut, satu hal menarik terlihat. Para barista dan pegawai Sumber Wandhe telah memahami bahwa pengalaman pengunjung tidak hanya dibangun dari secangkir kopi yang disajikan. Suasana ruang, tampilan visual, hingga bagaimana sebuah tempat bercerita kepada pengunjung turut membentuk impression dan experience yang ditinggalkan.
“Dari awal, kami memang tidak terlalu mengejar estetika. Yang kami utamakan adalah kenyamanan pengunjung. Tetapi, setelah kurang lebih delapan tahun berjalan, kami melihat bahwa Sumber Wandhe juga perlu punya identitas yang lebih kuat, supaya orang lebih mudah mengenali dan memahami apa yang menjadi ciri khas kami,” ujar Karim.
Dari sinilah gagasan rebranding mulai menemukan relevansinya. Penguatan identitas visual dapat dilakukan melalui pembaruan logo, pemilihan warna, penataan layout kafe, hingga menghadirkan spot foto yang tidak hanya menarik untuk diabadikan, tetapi juga mampu membawa pengunjung mengenal cerita, sejarah, dan keunggulan yang menjadi ciri khas Sumber Wandhe.
Bagi tim pengabdian, identitas visual bukan sekadar soal membuat sebuah kafe terlihat lebih menarik. Identitas visual yang konsisten justru dapat menjadi “bahasa” bagi sebuah usaha untuk memperkenalkan siapa mereka dan apa yang mereka tawarkan.
Hal serupa juga berlaku dalam membangun kemitraan. Sumber Wandhe memilih untuk tidak sekadar mengejar jumlah mitra. Kualitas tetap menjadi prioritas utama. Pendekatan inilah yang menjadi kekuatan sekaligus peluang untuk terus dikembangkan melalui inovasi dan jejaring kolaborasi yang lebih luas.
Dengan fondasi kualitas yang telah dibangun, Sumber Wandhe dinilai memiliki potensi untuk terus memperluas jangkauan pasar. Inovasi dalam identitas visual dan penguatan strategi kemitraan diharapkan dapat menjadi langkah berikutnya untuk memperkenalkan produk lokal Wonosalam kepada pasar yang lebih luas, termasuk membuka peluang menuju pasar internasional.
Untuk mendukung langkah tersebut, tim menawarkan pendekatan kolaboratif yang memadukan keahlian desain visual dan hukum. Pendampingan desain diarahkan pada penguatan identitas visual yang konsisten melalui signage, sign identity, dan desain stand booth sebagai luaran konkrit.
Selanjutnya, kegiatan Pelatihan Kemitraan Strategis dan Administrasi Kerja Sama dilaksanakan pada 11 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan Sumber Wandhe dalam membangun kemitraan yang lebih terarah. Salah satu peluang yang dipersiapkan adalah pengembangan skema B2B (Business-to-Business) di masa mendatang, sehingga kerja sama yang dibangun tidak hanya bertumpu pada relasi, tetapi juga memiliki administrasi dan landasan kerja sama yang lebih jelas.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mempertemukan dua keahlian dalam satu ruang pendampingan: desain visual dan hukum. Kolaborasi ini digagas oleh Aileena Solicitor C.R.E.C., S.T., M.Ds. selaku ketua tim, bersama Nadhila Widyanti, S.T., M.Ds. dan Izzah Khalif Raihan Abidin, S.H., M.H.
Pada akhirnya, penguatan daya saing Sumber Wandhe tidak berhenti pada bagaimana sebuah produk terlihat menarik. Lebih jauh, pendampingan ini diarahkan untuk menjaga apa yang sejak awal menjadi kekuatan mereka: kualitas. Kemudian, kualitas tersebut diperkuat dengan inovasi, identitas yang konsisten, dan kemitraan strategis agar Sumber Wandhe semakin siap tumbuh dan membawa cerita kopi Wonosalam ke pasar yang lebih luas.
(Red)






