Cerita Jurnalis, Liput Muktamar ke-35 NU hingga Dirikan Majlas Olah-olah

JOMBANG || RADARJATIM.CO ~ Perhelatan Muktamar ke,35 NU di Jombang, Jawa Timur, menghadirkan beragam cerita hangat dari para muktamirin dan jurnalis.

Salah satunya datang dari Muhammad, wartawan Lampiran.id asal Pulau Bawean yang kini bermukim di Surabaya.

Kehadirannya di arena permusyawaratan tertinggi NU tersebut merupakan wujud nyata kecintaan serta loyalitas kepada jam’iyah.

Di sela tugas jurnalistiknya, perhatian Muhammad tersita pada pameran foto sejarah perjalanan para ulama pendiri NU.

Baca Juga :  Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Ajarkan Nilai-Nilai Pancasila di Sekolah Dasar: Membangun Generasi Berkarakter Sejak Dini

Deretan foto lawas era 1964 menampilkan dokumentasi bersejarah figur Habib Alwi Alhadad, KH Mahrus Aly, AH Nasution, KH Wahab Chasbullah, hingga KH Bisri Syansuri.

“Saya meliput resmi sekaligus ingin belajar dari jejak para ulama. Foto,foto ini mengingatkan perjuangan NU menjaga NKRI dan agama,” ungkap Muhammad.

Tak sekadar menyimak rekam jejak lewat pameran, ia pun meluangkan waktu berziarah ke maqbarah Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Baca Juga :  Micromine Momentum 2023: Para "Rock Stars" dan Pengembangan Terbaru di Dunia Pertambangan

“Di mana pun kita berada, di situ nilai perjuangan para kiai sepuh harus kita teladani,” pungkasnya.

Menariknya, di tengah hiruk-pikuk muktamar, lahir sebuah gagasan kultural yang spontan.

Muhammad bersama rekan-rekannya yang berasal dari Situbondo (Ra Wahid), Madura (Gus Anas), Sidoarjo (Gus Towi)dan Lamongan (Fadlu) menginisiasi sebuah komunitas bernama Majlas Olah-olah.

Komunitas ini dicetuskan pada Minggu (30/8/2026) pagi, tepat pukul 05.15 WIB.

Baca Juga :  Statement Resmi Penasehat ASMIPA, H. Ahmad Rofik SE.,MM., Terkait Pemecatan Kepala Sekolah di Jawa Barat

Momen kelahirannya bertempat di Warkop Inspirasi, yang berlokasi persis di samping area makam Mbah Wahab Chasbullah, kawasan Pesantren Tambakberas.

Majlas Olah-olah dibentuk sebagai ruang kumpul santai untuk ngopi dan ngaji di mana pun kita berada dan merantau.

Melalui perkumpulan ini, mereka menegaskan bahwa identitas, ruang silaturahmi, serta tradisi keilmuan ala NU akan terus dirawat, bahkan dari meja warung kopi sekalipun.

(Red)