Penulis: Mahasiswi Fakultas Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Indah Septi Yunita Putri
Denpasar [www.radarjatim. co~ Coronavirus Disease 2019 atau disebut dengan Covid-19 merupakan kasus pneumonia yang terjadi di Wuhan Tiongkok dan diumumkan pada tanggal 31 Desember 2019 oleh World Health Organization (WHO). Virus corona telah menjangkit secara masif sehingga virus corona disebut sebagai pandemi. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang telah terjangkit pandemi ini dengan kasus pertama yang ditemukan pada tanggal 2 Maret 2020.
Virus ini tidak hanya mengancam kesehatan namun juga berdampak yang cukup signifikan dalam sektor perekonomian.Pandemi Covid-19 telah menimbulkan ketidakstabilan diberbagai sektor perokonomian tidak terkecuali di sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sektor terakhir yang dapat bertahan (sector of the last resort) ditengah pandemi. Namun bukan berarti pandemi Covid-19 tidak memiliki efek pada kegiatan usahatani. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar menyebabkan terjadinya pembatasan termasuk dalam hal distribusi saprodi untuk kegiatan pertanian dibagian hulu. Selain itu, pada bagian usahatani (subsistem onfarm) tetap harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan pangan.
Sektor pertanian temasuk salah satu sektor yang terdampak kasus Covid-19. Sektor pertanian menjadi kebutuhan prioritas dalam menghadapi penyebaran Covid-19 karena berkaitan langsung dalm pemenuhan hajat hidup manusia sehingga permintaan akan bahan pangan akan tetap selalu ada. Walaupun terjadi kemerosotan ekonomi di berbagai sektor usaha, sektor pertanian menjadi sektor terakhir yang sanggup bertahan (sector of the last resort) yang menjadi bukti bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling aman diantara sektor lainnya. Meskipun sektor lain mengalami penurunan, setidaknya sektor pertanian mampu menjadi andalan dalam pemenuhan pangan rakyat sehingga masyarakat tidak menjadi kelaparan. Sebagai sektor yang paling banyak diusahakan masyarakat di Indonesia, pertanian memiliki peran penting dalam pemenuhan ekonomi sebagian besar masyarakat.
Maka dari itu pentingnya pengembangan sektor pertanian termasuk berbagai kebijakan pemerintahan dalam upaya mempertahankan eksistensi sektor pertanian, baik dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat serta menunjang pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat mulai dari pangan, perkebunan, peternakan, sayuran dan buah – buahan. Pandemi Covid-19 tidak dipungkiri akan mempengaruhi sektor pertanian mulai dari subsistem hulu, onfarm hingga hilirisasi pertanian. Mewabahnya Covid-19 menuntut masyarakat untuk meningkatkan imunitas dengan mengkonsumsi beragam makanan yang bergizi. Meskipun peluang pasar untuk sektor pertanian masih terbuka lebar namun distribusi hasil pertanian tetap terkendala karena adanya pembatasan ssosial berskala besar (PSBB) dan social distancing.
Adapun beberapa aspek yang akan mempengaruhi sektor pertanian di tengah pandemi jika ditinjau dari aspek agribisnis diantaranya:
Pertama yaitu subsitem hulu agribisnis. Subsitem hulu merupakan kegiatan ekonomi yang menghasilkan dan memperdagangkan sarana produksi pertanian dalam lingkup primer seperti industri pupuk, bibit atau benih, obat – obatan serta alat mesin pertanian dan sarana produksi primer pertanian lainnya yang berguna dalam menunjang kegiatan usaha tani. Kebutuhan akan sarana produksi primer usahatani akan tetap ada dalam usaha pertanian, mengingat pentingnya kegiatan usahatani dalam menghasilkan kebutuhan pangan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat ditengah pandemi Covid-19. Adanya penyebaran Covid-19 akan berakibat pada menurunnya produksi sebesar 5% karena harga sarana produksi termasuk benih, pupuk, pestisida dan pakan mahal serta distribusi tidak lancar. Hal ini tentu merugikan petani terutama petani kecil yang berada di pedesaan. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu pentingnya kelembagaan yang dapat menghimpun kebutuhan kegiatan usaha pertanian agar harga saprodi dapat dijangkau serta meminimalisir resiko kerugian yang didapat oleh petaniakibat adanya permainan harga oleh beberapa pihak distribusi di daerah.
Kedua subsistem onfarm yang merupakan kegiatan menggunakan barang – barang modal dan sumber daya alam untuk menghasilkan komoditas pertanian yang dimasa lalu dikenal dengan sektor pertanian primer. Petani merupakan garda terdepan di tengah pandemi Covid-19 dalam menghasilkan produk pertanian guna memenuhi kebutuhan pokok manusia. Tergangunya input pertanian dari subsistem hulu tentu akan berpengaruh dan terganggunya subsistem onfarm. Namun ketahan pangan harus tetap terjaga, sehingga diperlukannya kerja sama antar stakeholder pertanian terkait mulai dari pemerintah, penyuluh, peneliti, akademisi swasta serta pelaku sektor pertanian lainnya guna mempertahankan ketahanan pangan dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok masyarakat ditengah pandemi Covid-19.
Ketiga yaitu subsitem hilir agribisnis merupakan kegiatan ekonomi yang mengolah hasil pertanian primermenjadi produk olahan baik produk antara atau siap pakai yang disebut juga dengan kegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional. Agroindustri dalam bidang pertanian diperlukan guna menjadikan produk pertanian memiliki nilai tambah (value added) sehingga harga yang diterima menjadi lebih tinggi. Ditengah pandemi Covid-19, kegiatan agroindustri tentunya juga akan terganggu dalam menghasilkan produk pertanian bernilai tambah. Dalam keadaan ditengah pandemi Covid-19, interaksi langsung harus dikurangi guna memutus penyebaran virus. Untuk mengurangi interaksi ini salah satu cara yang efektif adalah dengan pemanfaat teknologi seperti menggunakan media online serta menggunakan jasa pengangkutan yang juga dapat dipesan secara online. Tenaga kerja di sektor pertanian saat ini masih di dominasi oleh usia tua karena kurangnya minat dari generasi muda dalam sektor pertanian.
Maka hal ini menjadi kendala dalam pemasaran yang memanfaatkan platform digital atau media online di masa pandemic ini.
Maka dari itu sektor pertanian akan tetap selalu ada karena dibutuhkan dan berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat walaupun mengalami beberapa kendala. Adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar menyebabkan terjadinya pembatasan termasuk dalam hal distribusi saprodi untuk kegiatan pertanian. Maka dari itu pemanfaat platform digital dan media sosial di era pandemi sangat dibutuhkan untuk pemasaran. Berbagai stakeholder pendukung kegiatan usahatani termasuk penyuluhan juga merupakan garda terdepan dalam pemberdayaan petani harus selalu bersinergi guna mendukung terciptanya produk pertanian yang berkualitas.






