MALANG || RADARJATIM.CO — Dunia riset dan nanoteknologi Indonesia kembali mencatatkan inovasi membanggakan. Kali ini, prestasi gemilang ditorehkan oleh Tim PLASMON dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM) dalam ajang bergengsi PKM AMLI 2026.

Mereka sukses mengembangkan riset terapan mutakhir berupa rekayasa nanokristal bimetalik emas/perak (Au/Ag) yang dirancang khusus untuk mendeteksi hidrogen peroksida (\text{H}_2\text{O}_2) secara cepat, akurat, dan ekonomis.
Proyek riset yang berlangsung intensif sejak 10 Agustus hingga 25 Oktober 2026 di Gedung Fisika B22 UM ini digawangi oleh kolaborasi mahasiswa lintas jurusan dari Departemen Fisika dan Departemen Kimia. Tim ini diketuai oleh Adeka Delfis Tama, dengan anggota Dian Mulya Rahma Wibowo, Saras Aprilientera Pingky, dan Imam Nawawi, serta didampingi langsung oleh dosen pembimbing berpengalaman, Ir. Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D.
Ketua Tim PLASMON, Adeka Delfis Tama, menjelaskan bahwa inovasi ini dilatarbelakangi oleh urgensi ketersediaan alat deteksi kesehatan yang responsif dan terjangkau bagi masyarakat.
”Hidrogen peroksida merupakan senyawa oksidator penting yang ada di berbagai sektor, baik biologis maupun industri. Pemantauan ketat terhadap zat ini sangat krusial demi menjamin kesehatan masyarakat luas,” ujar Adeka saat ditemui, Jumat (30/10).
Dalam proses pembuatannya, tim menerapkan metodologi canggih menggunakan pulsed laser ablation in liquid (PLAL) dengan variasi energi laser Nd:YAG sebesar 650, 700, dan 750 mJ. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa sampel yang diproduksi dengan energi laser 750 mJ memberikan respons kolorimetri paling optimal dengan tingkat akurasi tinggi sebagai kandidat sensor kesehatan masa depan.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Tim PLASMON, Ir. Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D., mengapresiasi kerja keras mahasiswanya. Menurutnya, capaian ini bukan sekadar inovasi tingkat laboratorium semata.
”Pengembangan teknologi sensor berbasis nanobahan ini merupakan manifestasi nyata dari kemitraan pendidikan untuk menciptakan instrumen diagnostik kesehatan yang presisi namun ekonomis. Temuan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan kit deteksi mandiri yang mudah diakses masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh dari sekadar inovasi teknologi medis, riset ini juga selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) pada Target 3.d terkait penguatan kapasitas manajemen risiko kesehatan global. Selain itu, teknologi ini juga berpotensi diadopsi ke dalam modul pembelajaran praktis sains di sekolah-sekolah daerah.
Melalui kolaborasi apik antara Departemen Fisika dan Kimia FMIPA UM ini, bukti nyata kembali ditunjukkan bahwa dunia akademik lokal siap menghadirkan solusi saintifik handal untuk memperkuat sistem kesehatan nasional di masa depan.
(Red)






