Malang || RADARJATIM.CO.~ Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas Edisi ke-11, sekitar 589 juta orang dewasa di dunia hidup dengan diabetes pada tahun 2024 dan jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 853 juta orang pada tahun 2050. Deteksi dan pemantauan diabetes umumnya masih dilakukan melalui pengambilan sampel darah yang bersifat invasif sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.

Oleh karena itu, pemanfaatan gas aseton pada napas sebagai biomarker diabetes menjadi salah satu alternatif yang terus dikembangkan karena lebih praktis dan non-invasif. Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti fotonik Departemen Fisika Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan sensor gas aseton berbasis serat optik.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sensor gas aseton berbasis serat optik jenis No-Core Fiber (NCF) sebagai inovasi teknologi untuk mendukung deteksi dini diabetes secara non-invasif. Penelitian ini mendukung SDGs poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) serta SDGs poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi dalam pengembangan sistem penelitian.
Penelitian dilaksanakan oleh tim peneliti fotonik Departemen Fisika UM yang terdiri dari tim dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Fisika pada periode April hingga November 2026 di Laboratorium Laser dan Fotonik UM.
Penelitian ini memanfaatkan serat optik jenis No-Core Fiber (NCF), sumber cahaya, spektrometer serat optik, serta peralatan pendukung fabrikasi sensor. Tahapan penelitian meliputi perancangan sensor, fabrikasi, pelapisan lapisan sensitif pada permukaan No-Core Fiber, pengujian terhadap variasi konsentrasi gas aseton, serta analisis perubahan respons optik.
Tim peneliti tengah mengembangkan sensor gas aseton berbasis serat optik sebagai alternatif teknologi deteksi dini diabetes secara non-invasif. Penelitian ini sudah melewati tahap perancangan, fabrikasi, dan pengujian awal sensor untuk mengevaluasi respons optik terhadap berbagai konsentrasi gas aseton. Penelitian tersus difokuskan pada peningkatan sensitivitas, kestabilan, dan performa sensor yang lebih handal.
Penelitian ini mendukung pencapaian SDGs poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), khususnya Target 9.5 yang mendorong peningkatan riset ilmiah dan kapasitas teknologi sektor industri melalui pengembangan sensor gas aseton berbasis serat optik No-Core Fiber (NCF) — sebuah inovasi di bidang instrumentasi fotonik yang berpotensi diaplikasikan sebagai perangkat diagnostik kesehatan berbiaya terjangkau dan mudah direplikasi.
Selain itu, penelitian ini juga berkontribusi terhadap SDGs poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), khususnya Target 17.17 mengenai kemitraan efektif antara sektor publik (perguruan tinggi) dan swasta, melalui kolaborasi antara Departemen Fisika UM dengan Achmad Hasan Dwi Pradana, S.Si. selaku mitra dari CV. Yotta Aksara Energi. Kemitraan ini secara konkret mendukung perancangan ruang uji (chamber testing), pengembangan sistem pembacaan konsentrasi gas, serta integrasi perangkat pendukung pengukuran. Ini memperkuat hilirisasi hasil riset dari laboratorium menuju purwarupa yang aplikatif.
Nurul Hidayat., Ph.D., selaku ketua peneliti menyampaikan bahwa penelitian ini menjadi langkah awal dalam pengembangan teknologi sensor berbasis serat optik yang mengedepankan inovasi dan kolaborasi. “Kami berharap penelitian ini dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi sensor berbasis serat optik yang lebih akurat dan aplikatif. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan mitra pengembangan sistem, inovasi ini diharapkan terus berkembang sehingga memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun sebagai dasar pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia,” ujarnya.






