Lamongan [www.radarjatim.co~ Petani adalah orang yang mengusahakan usaha pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan rakyat, peternakan, perikanan atas resiko sendiri dengan tujuan untuk dijual baik sebagai petani pemilik maupun petani penggarap. Petani melakukan usaha taninya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hasil yang diperoleh dari usahanya selain digunakan untuk diri sendiri hasil tersebut juga dijual kepada orang lain. Sawi adalah sekelompok tumbuhan dari marga brassica yang di manfaatkan daun dan buahnya sebagai bahan pangan (sayur) baik segar maupun diolah, tanaman sawi dikenal sebagai tanaman sayuran iklim sedang sehingga banyak petani yang mengembangkan usaha tani sawi.
Petani sawi merupakan seseorang yang bergerak di bidang pertanian dengan cara melakukan pengolahan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara tanaman sawi dan juga mempunyai tujuan untuk memperoleh hasil dari usaha taninya. Para petani biasanya membudidayakan sawi dengan memanfaatkan lahan sawah miliknya. Para petani memilih sayuran ini dalam menjalani usahanya karena ditinjau dari aspek teknis budidaya sawi hijau relatif lebih mudah dibandingkan dengan jenis tanaman hortikultura lainnya.
Budidaya sayuran perlu pengolahan dan perhatian lebih dari tanaman lain, diantaranya pengolahan tanah, pemupukan, penyiraman air, penyemaian benih, pemeliharaan tanaman, dan pemungutan hasil panen agar mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Selanjutnya, dalam usaha pertanian, hasil produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko.
Pada umumnya proses produksi usaha tani berjalan dengan adanya persyaratan yang dibutuhkan tanaman, persyaratan ini terdiri dari tanah,tenaga kerja, dan sarana produksi.Masing-masing faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lain. Begitu juga halnya dengan petani sawi hijau dapat memperoleh produksi setelah melakukan berbagai proses dan menunggu lamanya waktu yang dibutuhkan sawi hijau untuk tumbuh sampai akhirnya kepada tahap panen dan pemasaran.
Solusi yang diambil para petani untuk meningkatkan dan mengembangkan produksi sawi hijau dengan cara menjaga dan merawat tanaman sawi hijau degan baik dan benar serta memperbaiki faktor produksi sawi hijau. Yang dimaksud faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada tanaman tersebut agar tanaman mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Namun demikian tidak semua usaha tani sawi hijau dapat mendatangkan keuntungan dan menghasilkan produksi maksimum, hal ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor produksi tanaman sawi hijau.
Metode yang digunakan para petani untuk meningkatkan dan mengembangkan produksi sawi hijau yaitu dengan mempelajari tahapan budidaya tanaman sawi hijau dengan baik dan benar, menganalisis pengaruh modal, benih, pupuk, pengalaman tenaga kerja dan menambah luas lahan pertanian. Usaha tani sawi memiliki potensi yang cukup bagi petani sawi hijau baik untuk dikonsumsi dan memenuhi kebutuhan rumah tangga dari penjulan hasil produksi sawi hijau. Sawi mudah dikembangkan karena dapat dipanen setelah 1-2 bulan proses pembibitan, sawi hijau juga dapat dipanen setiap hari jika setiap pematang diatur waktu tanamnya.
Para petani sawi hijau biasanya mengelola lahan miliknya sendiri dan perkembangan sawi hijau pada setiap daerah berbeda-beda tergantung cara mengelola dan merawat tanaman sawi hijau sehingga berpengaruhi pada faktor-faktor produksi yaitu terbatasnya modal, tenaga kerja yang kurang berpengalaman, lahan yang kurang memadai, pengelolaan yang kurang tepat, curah hujan, gangguan hama, dan hal lain yang dapat mempengaruhi hasil usaha tani sawi hijau. Dari beberapa faktor produksi tersebut dapat disederhanakan menjadi 2 karena memiliki perilaku yang berbeda tetapi dapat disatukan, yakni faktor produksi tenaga kerja dan faktor produksi modal.
Dalam jangka pendek, faktor produksi tenaga kerja dianggap sebagai faktor produksi variabel yang jumlah penggunaannya sesuai dengan perubahan produksi sawi hijau. Sedangkan faktor produksi modal dianggap sebagai faktor produksi yang tetap, artinya jumlahnya tidak berubah dan tidak berpengaruh oleh perubahan jumlah produksi sawi hijau. Berikut ini merupakan penjabaran faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sawi hijau:
A. Faktor luas lahan terhadap produksi sawi hijau
Semakin besar luas lahan yang digarap untuk berusaha tani maka akan semakin meningkatkan produksi sawi hijau.
B. Faktor benih terhadap produksi sawi hijau
Semakin baik kualitas benih yang digunakan maka akan menghasilkan produksi yang semakin tinggi. Hal ini juga disebakan karena petani harus selalu menggunakan benih yang unggul dan memiliki label.
C. Faktor modal terhadap produksi sawi hijau
Semakin banyak biaya yang digunakan maka semakin meningkatkan produksi sayur sawi.
D. Faktor pupuk terhadap produksi sawi hijau. Semakin tepatnya pemakaian pupuk maka semakin baik produksi sawi hijau dan semakin baik juga pertumbuhannya baik pertumbuhan daun maupun batang karena sawi hijau yang diproduksi adalah daun dan batangnya.
E. Faktor tenaga kerja terhadap produksi sawi hijau
Semakin banyak tenaga kerja yang digunakan maka semakin banyak pula peningkatan hasil produksi sawi hijau nya.
F. Faktor pengalaman terhadap produksi sawi hijau
Semakin banyak pengalaman memproduksi maka semakin meningkat hasil produksi harus dipertahankan pada masa tanam berikutnya. Pendidikan formal dapat mempengaruhi banyaknya hasil produksi karena kurangnya pengetahuan menanam sawi hijau pada zaman sekarang rata-rata masih rendah.
Dapat disimpulkan bahwa banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi usaha tani sawi hijau diantaranya adalah luas sempitnya lahan sawah, pemilihan benih yang berkulitas, banyaknya modal, tepatnya penggunaan pupuk, banyaknya tenaga kerja, serta pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh petani.
Tetapi terdapat tiga faktor penting yang berpengaruh dalam proses produksi diantaranya faktor banyak dan sedikitnya modal yang digunakan oleh petani sawi hijau, tenaga kerja yang dipekerjakan oleh petani sawi hijau dan luas sempitnya lahan. Dari ketiga faktor tersebut harus dikelola dengan baik karena dapat menentukan keberhasilan usaha tani dan besarnya produksi sawi yang diperoleh.
(By : Devi Nur Mayang Sari/Agribisnis UMM)






