Tidak banyak yang tahu di Provinsi Jawa Timur (Jatim) tradisi menenun sudah dilakukan lintas generasi. atau merupakan tradisi turun menurun. Daerah penghasil tenun di Jatim seperti di Larangan, Lamongan dan Bandar Kidul, Kediri sudah sampai generasi ketiga.
Pun dengan Desa Wedani, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang masih melestarikannya hingga saat ini. Bahkan di desa ini pemilik usaha tenun sudah sampai generasi kelima.
Produk kain tenun dan sarung tenun yang dibuat secara manual dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) telah menembus pasar dunia. Bahkan mampu menggerakkan ekonomi desa, sehingga mampu menyubangkan devisa bagi negara. Kain tenun yang melanglang buana ke sejumlah negara hingga lintas benua ini telah mewakili pembuatnya yang sebagian besar belum pernah menginjakkan kaki ke luar Indonesia.
Keisitimewaan dari tenun khas Wedani terlihat pada warna, motif ukuran kain tenunnya yang pas untuk pemakainya. Selain itu, kain tenun ini tidak hanya untuk sarung tapi juga cocok sebagai bahan untuk baju.
Tiga motif utama yang diproduksi perajin kain tenun yaitu motif gunungan, kotak, dan kembang. Motif tambahan berupa tumpal (kepala sarung), pinggiran, segitiga, wajik, kembang mawar, gunungan berukuran kecil, dan motif kembangan lainnya. Pada awalnya hanya diproduksi sarung berwarna hijau tua dan cokelat. Kini juga beragam ke warna hijau muda, hijau pandan, oranye, merah muda, kuning, dan ungu.
Gresik yang berjuluk “kota santri” ini identik dengan industry sarung tenun. Di samping ada industri rumahan dengan ATBM, di Gresik terdapat pabrik sarung tenun dengan alat tenun mesin (ATM), PT Behaestex.
Wedani hanya satu dari beberapa sentra perajin tenun yang ada di Gresik. Setiap hari, ada total 62 perajin skala kecil-menengah dan 1.500 tenaga kerja yang berjibaku merajut tenun menjadi sarung, kain songket, dan baju menggunakan ATBM.
Anjuran Dari Wali
Sejak abad ke-15 warga di Desa Wedani merajut sarung tenun secara turun-temurun. Yang mulanya pembuatan kain tersebut untuk menutupi aurat sesuai ajaran Wali Songo. Dimana Gresik menjadi salah satu tempat syiar walisongo yaitu Sunan Giri.
Tradisi menenun di Wedani telah berlangsung lintas generasi hingga sekarang dilanjutkan oleh generasi kelima. Budaya ini mulai berkembang saat Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik yang menjadi pemimpin Wali Songo generasi pertama yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, mengajari warga setempat cara menenun sarung untuk menutupi aurat saat beribadah shalat.
Berawal dari anjuran agama, tradisi itu berkembang menjadi lapangan usaha. ”Jadi, Sunan Malik Ibrahim itu pengusaha pertama di sini yang mempekerjakan warga setempat,” kata Mas Ariyatin (40), seorang perajin tenun yang kini membina koperasi produsen tenun di Wedani, Koperasi Produsen Wedani Giri Nata.
Lama-kelamaan, setelah terbiasa menenun dan mampu memproduksi secara mandiri, warga tidak lagi bekerja untuk Sunan Malik Ibrahim dan memilih merintis usahanya sendiri. ”Sejak itu, menenun jadi bagian kehidupan sehari-hari di sini,” kata Ariyatin.
Kini, penghasil sarung tenun tersebar di Kecamatan Cerme (Wedani, Ngembung, Dungus, Iker-iker Geger), dan Benjeng (Jatirembe, Pundut Trate), Balongpanggang dan Duduksampeyan. Di Desa Wedani masih ada 25 unit usaha sarung tenun tradisional yang dikelola keluarga.
“Biangkerok” Menurunnya Perajin Tenun
Tercatat, ada 75 perajin tenun khas Wedani pada 2014. Sayangnya, beberapa perajin, satu persatu menutup usahanya. Kini, tersisa sekitar 37 perajin atau berkurang hampir 50 persen.
Menurunnya jumlah perajin dikarenakan ongkos produksi naik, mahalnya bahan baku terutama benang sutera dan pewarna yang masih impor, peyerapan pasar menjadi “biangkerok”-nya.
Pun dengan perajin yang masih bertahan menyiasati kondisi ini dengan berproduksi saat ramai pesanan, yaitu menjelang puasa Ramadhan hingga musim haji. Ada pula yang memadukan bahan baku benang sutra dan benang masris atau benang setara katun untuk menekan biaya produksi.
Sementara untuk per lembar kain masih dikisaran Rp 250.000 – Rp 1,5 juta per lembar. Tidak hanya menjual dalam bentuk lembaran, beberapa perajin mengkresikan menjadi busana.
Menurut Ariyatin, bahan baku utama berupa benang sutera 210 nano meter per 5 kilogram sudah mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Sedangkan harga benang sutera naik dibandingkan sebelumnya di kisaran Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta.
Ariyatin mengatakan, ketika permintaan lesu, perajin mencoba peruntungan di pekerjaan lain seperti bertani, menjadi tukang bangunan dan berdagang. Seperti dirinya yang membuka jasa sewa traktor dan mesin panen padi serta berdagang kedelai.
Kembali Usaha Saat Ramadhan dan Haji
Biasanya para perajin mulai membuka lagi usahanya setiap menjelang Ramadhan dan mengandalkan mengandalkan pasar local dan pasar di kawasan wisata makam Sunan Ampel dan Sunan Giri.
Ariyatin sendiri, menuturkan ketika awal usaha permintaan cukup banyak. Pada 2004, Ia mampu memperkerjakan 30 orang. Sedikitnya, lima kodi (100 lembar) kain tenun yang diproduksinya, setara Rp 50 juta sebulan omzet yang diterima dengan harga per lembar saat itu Rp 500.000.
Bahkan, pernah menembus Rp 125 juta – Rp 150 juta sebab ada beberapa produksinya di ekspor ke Timur Tengah, melalui orang lain. Setelah Idul Adha biasanya sepi hingga enam bulan, dan ramai lagi menjelang puasa Ramadhan sampai menjelang musim haji.
Jika dikerjakan serius, dalam sehari satu perajin bisa menghasilkan selembar kain sarung. Seperti halnya, Nur Saadah dan Munawaroh yang bisa menghasilkan 1,5 lembar sarung dengan upah Rp 55.000. Sebagian besar perajin adalah ibu rumah tangga yang mengerjakan untuk membantu ekonomi keluarga.
Kaum Muda Belum Tertarik
Penghasil sarung tenun tradisional di Gresik tersebar di Kecamatan Cerme (Wedani, Ngembung, Dungus, Iker-iker Geger), dan Benjeng (Jatirembe, Pundut Trate). Di Desa Wedani masih ada 25 unit usaha sarung tenun tradisional yang dikelola keluarga dengan 10 pekerja – 100 pekerja.
Seharusnya industri sarung tenun di Wedani ini bisa menjadi salah satu ikon Gresik selain industri songkok (kopiah). Apalagi kopiah dan sarung juga bisa melekat dengan identitas Gresik sebagai kota santri.
Industri tenun di Desa Wedani, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terkendala sulitnya regenerasi karena anak-anak muda saat ini lebih cenderung memilih bekerja di pabrik ataupun kerja sebagai karyawan di perkantoran yang terlihat lebih keren dari pada meneruskan usaha orang tua ataupun harus menjadi pekerja penenun.
Akibatnya perajin kesulitan mencari penerusnya dan mendapatkan karyawan, untuk itu mereka pun harus membina masyarakat Bojonegoro, Lamongan dan Mojokerto untuk menekuni tenun. Jika tidak segera di atasi tenun Wedani akan meredup seiring perkembangan jaman.
Tidak Kalah Dengan Produksi ATM
Kepala Desa Wedani Hadi Sanjaya menyebutkan Wedani dikenal sebagai sentra sarung tenun ATBM. Kualitas produksinya tidak kalah dengan sarung produksi Alat Tenun Mesin (ATM). Titik kebangkitan usaha tenun terjadi pada 2009, dengan bantuan dari Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Telkom dan PT Semen Gresik untuk pengembangan usaha tenun.
Perajin mendapatkan bantuan modal untuk pengembangan usaha. Sarung tenun yang diproduksi di Wedani, mayoritas sarung sutera memiliki kualitas bagus. Desain motif dan warna beragam. Sayangnya, produksi warga tersebut tidak memiliki jenama.
Ia menambahkan, Jenama seperti Donggala, Lamiri, Abu Yaman sebenarnya diproduksi di Wedani. Perajin tenun Wedani diminta pelanggan besar memproduksi sarung dengan merek tersebut.
Sejak dikukuhkan menjadi”desa devisa” ke-24 pada November 2021 Desa Wedani, mampu memproduksi 146.400 lembar sarung per bulan. Meski sempat goncang akibat pandemi Covid-19. Namun Lewat binaan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), 550 penenun diberi pelatihan, pendampingan, dan fasilitas untuk meningkatkan kapasitas usaha, kualitas dan kuantitas produksi, serta menembus pasar ekspor.
Para perajin tenun bergabung dalam wadah Koperasi Produsen Wedani Giri Nata yang di untuk merambah pasar yang lebih luas. Kini, produk tenun Wedani merambah pasar Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Yaman, Bangladesh, dan Somalia meski tidak langsung (indirect export).
Dengan skema ekspor tidak langsung, penenun menjual kain ke distributor, yang melakukan pengemasan dan mengekspornya. Tidak mudah mencari pasar ekspor untuk sarung karena tidak semua negara memiliki tradisi mengenakan sarung.
Kini, nilai ekspor kain tenun dari Wedani mencapai kisaran Rp 300 juta-Rp 400 juta per tahun. Kapasitas produksi meningkat 14 persen dan penjualan naik 29 persen. Hingga Agustus 2023, Desa Wedani menyumbangkan tambahan cadangan devisa bagi negara senilai Rp 450 juta.
(RJ/TMR)
