Site icon Radar Jatim

KIPAS KERTAS CARI ANGIN

RadarJatim.co ~ Kedapatan seorang anak murid putri kebagian tempat duduk paling pojok barat di bagian belakang arah selatan ruang ujian SAS (Sumatif Akhir Semester) SMAN 1 Sangkapura.Ia tengah mengipas-ngipas dirinya karena gerah (panas berkeringat, palak), lihat KBBI arti kata gerah atau (baca, Bawean: ojeng) akibat sinar matahari bersinar terang (Kamis, 4 Desember 2025) sekitar pukul 09:00 WIB. Walau Ruang 10 sudah memiliki empat kipas angin ukuran relatif jumbo tetap saja anak murid putri tersebut tak kebagian angin buatan itu.

Langkah antisipasi atas kegerahannya itu, ia bernama panggilan Fira kelas X itu mengeksploitasi kertas buram untuk lembar corat-coret dalam mengerjakan SAS mapel eksak ternyata dilipat-lipat menjadi kipas angin (baca, Bawean: keppay) untuk mencari ingin. Hasilnya, menurut penuturan Fira lumayan berasa daripada tidak pakai kipas sama sekali. Hanya saja, penggunaan kipas kertas itu tidak bisa bertahan lama setelah tetesan keringat menimpanya. Bagian wajah Fira terasa seperti ada yang membalai saat kipas kertas itu mengayun di area wajah dan sekitarnya. Istilah dalam peribahasa “Tak ada rotan, akarpun jadi”. Sepoi!

Siang itu memang suasana berasa panas setelah sinar matahari menyelinap masuk ke ruang ujian. Anak murid yang lain cukup beruntung mendapatkan tempat duduk yang berdekatan dengan keberadaan kipas angin ruang kelas. Idealnya, sekolah maju di manapun sudah tidak menggunakan kipas angin akan tetap sudah menggunakan AC (Air Condition) sebagai penyejuk ruang kelas. Jika sudah menggunakan AC sudah tidak terdengar lagi gemuruh bunyi baling-baling kipas berputar mengiang di telinga. Kelebihan AC, suhu dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak murid. Kipas-kipas kertas cari ingin sudah bisa disudahi. Namun, pihak sekolah belum mampu untuk pengadaan AC yang dibutuhkan itu. Sedangkan piranti AC selama ini baru ruang kantor dan ruang laboratorium komputer. Alas ruang kelaspun sudah berupa karpet untuk menghindari keadaan licin akibat embun AC yang jatuh ke lantai ruang kelas.

Apa yang telah dilakukan oleh Fira merupakan gerakan spontan agar sebisanya pihak sekolah menempatkan posisi kipas angin agar bisa menjangkau seluruh sudut ruangan sehingga semua anak murid kebagian angin buatan yang bergerak itu. Paling dalam pesan terselubung secara implisit sudah saatnya sekolah maju beralih dari kipas angin konvensional ke piranti AC yang menyejukkan. Pada akhirnya tidak ada lagi anak murid membawa kipas angin mini bertrnaga baterai ke dalam ruang kelas yang terkadang bunyinya menderu laksana seperti bunyi alarm ada bom yang mau meledak. Ternyata, tidak hanya murid yang membawa kipas mini ke dalam ruang kelas, gurupun juga demikian. Adanya kipas angin di dekat meja guru juga sedikit mengganggu. Kertas-kertas tugas dan ulangan anak murid turut terusik jatuh ke lantai ruang kelas saat dikumpulkan ke meja guru. Rambut Pak gurupun tersingkap kebotakannya dan awut-awutan setelah diterpa angin kiriman dari kipas angin yang berada di atas atau dekat meja tempat duduknya. Pada akhirnya, tugas anak murid menyapu ruang kelas sudah tiada lagi karena lantai ruang kelas berupa karpet. Petugas sekolah cukup menggunakan alat pengisap debu. Anak pun masuk ruangan sudah melepas alas kaki atau sepatunya. Ruang kelas juga bisa digunakan sarana untuk menunaikan ibadah salat. Sudah tidak ada alasan musalla sekolah tidak muat. Dengan demikian, ruang kelas penuh berkah!

Exit mobile version