RADARJATIM.CO ~ Setiap tahun, pada tanggal 1 Mei, kita memperingati Hari Buruh Sedunia atau May Day. Ini adalah momen untuk menghormati perjuangan panjang kelas pekerja dalam meraih hak-hak yang layak: upah adil, jam kerja manusiawi, keselamatan kerja, dan jaminan sosial. Namun, di tengah euforia politik tahun politik, kita harus jujur mengakui sebuah kegelisahan, buruh kerap diperlakukan sebagai komoditas politik belaka.
Ada dua wajah yang sering kita saksikan. Pertama, saat pesta demokrasi tiba, buruh menjadi “primadona”. Deru suara mereka dijadikan jingle kampanye. Foto bersama serikat buruh menjadi properti kehumasan. Janji-janji manis tentang pencabutan omnibus law, kenaikan UMR, dan penghapusan outsourcing digulirkan untuk menarik simpati. Kedua, setelah suara diraih, buruh kembali didinginkan. Aspirasi mereka tenggelam dalam hiruk-pikuk kepentingan modal dan birokrasi.
Meminjam pemikiran Karl Marx, buruh memiliki kesadaran kelas yang seharusnya menjadi subjek sejarah, bukan objek politik. Ketika buruh dijadikan komoditi politik, nilai kemanusiaannya direduksi menjadi sekadar angka suara. Padahal, buruh adalah manusia dengan keringat, mimpi, dan napkah hidup untuk keluarganya.
Maka, mari kita tegaskan:
1. Tidak ada kesejahteraan tanpa kehadiran negara yang berpihak. Buruh tidak butuh jargon revolusioner saat kampanye, tapi butuh kebijakan konkret pasca-pemilu.
2. Suara buruh bukan pengantin musiman politik. Dukungan terhadap kandidat harus didasarkan pada rekam jejak, bukan janji kosong yang menguap setelah 14 April atau 14 Februari.
3. Politik yang sehat adalah politik yang melayani buruh sebagai subyek pembangunan. Bukan sebaliknya, mengeksploitasi solidaritas buruh untuk kepentingan kekuasaan sempit.
Hari Buruh bukan sekadar pawai dan orasi. Ini adalah pengingah bahwa di tengah geliat industrialisasi dan digitalisasi, martabat buruh tidak boleh diperjualbelikan layaknya komoditas. Jika ada politisi yang ingin didukung, pastikan dia yang menjadikan buruh sebagai mitra sejati, bukan obyek eksploitasi berkala.
Buruh bukan komoditi. Buruh adalah pemilik sah negeri ini. Merdeka untuk buruh…!!
Semoga tulisan ini bermanfaat – Selamat Hari Buruh…!
Oleh,
Mas’ud Hakim, M.Si., M.H.
– Pemerhati Kebijakan Publik
– Ketua LSM PiAR
