Site icon Radar Jatim

BBM Bersubsidi Tidak Pernah Dirasakan Masyarakat Konsumen di Pulau Bawean

Gresik { radarjatim.co ~ Pasokan BBM dari PT Pertamina divisi Banyuwangi melalui PT. BUMI MANDIRI di Surabaya jenis solar sebanyak 32 Ton dan Premium 360 ton untuk APMS wilayah Bawean menuai persoalan yang menahun. Saat ini (2021), BBM jenis solar mengalami kelangkaan. Tiadanya bahan bakar jenis solar di pasaran ini dirasakan oleh warga Pulau Bawean, khususnya masyarakat nelayan di dua kecamatan di Pulau Bawean sejak bulan September 2021.

Kelangkaan BBM jenis solar yang semula mendapat jatah dari PT. Pertamina sebanyak 22 tangki dikepras menjadi 10 tangki. Pada akhirnya hanya mendapat 4 tangki. Pengurangan jatah ini disebabkan adanya solar ilegal yang masuk ke Pulau Bawean dengan harga murah di pasaran.

Ali Shodikin, Kapten Kapal Bunker Ferimas Sejahtera dengan GT.762. No.3311/Ka 2015 Ka No.7371/L., mengatakan bahwa pada awalnya kapal memuat BBM dari PT. Pertamina divisi Banyuwangi melalui salah satu perusahaan di Surabaya untuk Pulau Bawean jenis Solar sebanyak 32 ton dan jenis Pertalite sebanyak 488 ton perbulan. Kapasitas sebanyak itu diperuntukkan APMS Wilayah Bawean.

Kapten Ali sapaan akrabnya menambahkan bahwa pemasok BBM untuk Pulau Bawean tidak pernah mengalami keterlambatan. Aktivitas bongkar dari kapal ke truk tangki PT. Pertamina dilakukan di pelabuhan penumpang selama 4 sampai 5 hari. Usai bongkar atau menurunkan habis jatah BBM untuk Pulau Bawean, kemudian kapal bertolak ke Pulau Masalembu. Sebaliknya usai dari Masalembu baru ke Pulau Bawean. Tegas Ali Shodikin kepada pihak Radarjatim.

Prapto, selaku pengawas APMS 01 menyampaikan bahwa BBM yang dari Kapal langsung menuju POM di dusun sungai topo tepatnya di kawasan perikanan Desa Sungai Teluk Kecamatan Sangkapura dengan menggunakan truk tanki milik PT. Pertamina.

Prapto, menambahkan bahwa jatah perbulan APMS untuk wilayah Pulau Bawean menerima pasokan BBM jenis solar sebanyak 4 tangki (32) ton dan Premium sebanyak 360 ton dari PT. BUMI MANDIRI di Surabaya.

Terkait dengan harga di pasaran Prapto tidak mengetahui karena BBM tersebut harga dipatok oleh Sub Agen. Aktivitas bongkar muat dari truk tanki milik PT. Pertamina dilakukan oleh sub agen di POM PERTAMINA dengan pengawasan dan pengawalan ketat oleh petugas. Tegas Prapto pengawas APMS 01.

Di tempat terpisah R. Muhammad Nur, pengawas APMS 02 menjelaskan kepada pihak Radarjatim bahwa BBM jenis solar saat ini hanya mendapatkan jatah 2 tangki atau sekitar 16 ton setiap bulan.

Kelangkaan BBM jenis solar ini terjadi di Pulau Bawean sejak bulan September 2021 ini karena pasokan dari PT. Pertamina dikurangi. Sementara sub agen tidak menebus adanya pembelian dari pihak PT. Pertamina yang semula memberi jatah sekitar 22 tangki menjadi 10 tangki, hingga pada akhirnya cukup 4 tangki saja.

Sub agen memberikan alasan dengan tidak mau menebus hal tersebut dari PT. Pertamina setelah melihat banyaknya solar ilegal yang masuk ke Pulau Bawean. Akibatnya, penjualan solar resmi tidak laku dan pihak Sub Agen merugi.

Pengawas APMS 02, R. M. Nur yang notabene sebagai Kepala Desa Sawahmulya Kecamatan Sangkapura pernah meminta kepada Muspika Kecamatan Sangkapura dan Tambak untuk diadakan rapat koordinasi terkait maraknya peredaran solar ilegal tersebut. Pasokan solar ilegal yang masuk ke Pulau Bawean di Kecamatan Tambak untuk di tertibkan.
Solar ilegal hanya bisa dirasakan sesaat oleh warga dan akan berakibat fatal untuk masyarakat itu sendiri sewaktu pasokan dari PT. Pertamina di kurangi. Selama pihak penegak hukum tidak berani bertindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku, terkait peredaran solar ilegal oleh oknum tertentu maka kelangkaan solar di Pulau Bawean akan terus terjadi. Tegas R. M. Nur.

Halim, seorang yang perduli akan nasib warga Bawean mengatakan bahwa selama Indonesia Merdeka warga di Pulau Bawean belum pernah menikmati adanya BBM bersubsidi. Untung saja apa yang dialami warga Pulau Bawean dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketangkasan untuk terus tetap beraktivitas mencari nafkah keluarga.

Justru warga Bawean yang mendapat subsidi dari PT. Pertamina ataupun dari orang-orang yang mendistribusikan terbukti dengan harga BBM jenis solar perliter Rp.8000 dan Premium Rp.8500 sampai Rp.9000 perliter yang dibeli warga dari Sub Agen. Di saat bahan bakar solar mengalami kelangkaan harga sampai meroket menjadi Rp.10 ribu sampai Rp.12 ribu perliter, bahkan lebih. Tegas Halim, Senin (4/10/2021 ).

(Red)

Exit mobile version