RADAR JATIM.CO ~ Saya termasuk orang yang memilih 3 kali saat pilpres hingga Prabowo terpilih menjadi Presiden dinilai punya keberpihakan kuat kepada rakyat kecil. Lihat saja tiga program besarnya: MBH (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. Bagi saya, ketiganya seperti trisula pemberdayaan rakyat: anak-anak diperbaiki gizinya, keluarga miskin diberi akses pendidikan, dan ekonomi desa diperkuat melalui koperasi.
Sekolah Rakyat memang dirancang pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan. Koperasi Merah Putih diarahkan menjadi pusat pelayanan ekonomi desa. MBG dengan anggaran super fantasitis ratusan triliunan bukan hanya ditujukan memperbaiki gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat ini jangan sampai hanya menjadi sarang korupsi para oknum pejabat BGN, Eksekutif dan Yudikatif (aparat) dan Legislatif serta para kroninya. Programnya menang bagus. Visinya besar.
Keberpihakannya jelas.
Tetapi saya harus mengatakan dengan tegas dan keras: program sebagus apa pun bisa rusak kalau tata kelolanya carut-marut. Dan ketika ada persoalan tata kelola itu dikritik wartawan, jangan kemudian pers yang dimusuhi. Inilah yang membuat saya prihatin.
Saya mendukung Presiden Prabowo.
Justru karena mendukung, saya ingin program-program beliau berhasil. Kalau di lapangan ada persoalan MBG, koperasi, atau program lainnya, bongkar. Evaluasi. Bereskan sampai ke akar-akarnya. Jangan kritik dianggap serangan kepada pemerintah.
Yang harus ditakuti pemerintah bukan wartawan (jurnalis) yang kritis. Yang harus ditakuti adalah persoalan di lapangan yang tidak pernah sampai ke meja Presiden karena semua orang sibuk mengatakan program baik-baik saja.
Di sinilah fungsi pers. Wartawan (jurnalis) bukan bagian dari humas pemerintah. Tugasnya bukan membuat semua program terlihat bagus. Kalau bagus, katakan bagus. Kalau ada persoalan, bongkar persoalannya.
Kritis berbeda dengan hoaks. Hoaks harus dilawan. Wartawan (Jurnalis) yang melanggar kode etik harus dikoreksi. Media yang melakukan pemerasan harus ditindak. Tetapi jangan samakan kritik terhadap tata kelola program pemerintah.
semua kritik kepada tata kelola program pemerintah kemudian dicurigai sebagai upaya menyerang pemerintah.
Apalagi kondisi industri pers hari ini sedang berdarah-darah. Media nasional dan lokal harus berperang melawan algoritma dan dominasi platform global. Pendapatan iklan berpindah ke Google, Meta, TikTok dan berbagai platform teknologi lainnya. Di tengah kondisi itu, pemerintah justru perlu mengevaluasi ke mana belanja komunikasi kementerian, lembaga negara, BUMN dan pemerintah daerah mengalir.
Saya ingin pertanyaannya sederhana: Berapa besar uang komunikasi pemerintah yang dibelanjakan kepada pers Indonesia, dan berapa yang justru mengalir ke platform global?
Buka datanya. Jangan sampai uang iklannya diberikan kepada platform global, sementara ketika ada kritik terhadap pemerintah, wartawan Indonesia yang dimarahi. Ini tidak adil. Yang saya minta adalah keberpihakan kepada ekosistem pers Indonesia.
Presiden punya program-program besar yang membutuhkan pengawasan publik. Presiden juga membutuhkan informasi yang jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi di bawah. Karena itu para pembantu Presiden seharusnya tidak alergi terhadap kritik.
Kadang-kadang berita yang paling tidak enak dibaca justru merupakan informasi yang paling penting untuk menyelamatkan sebuah program. Saya mendukung Presiden Prabowo bukan dengan cara ikut mengatakan semuanya baik-baik saja.
Saya mendukung beliau dengan cara ikut menjaga agar program-program yang bagus tidak rusak karena tata kelola yang buruk, kepentingan di bawah, dan pejabat yang antikritik. Karena bagi saya, mencintai sebuah program bukan berarti diam melihat kekurangannya.
Justru karena ingin program Presiden berhasil pers harus berani mengkritik tata kelolanya.
Pers harus berani mengkritik tata kelolanya.
Dan pemerintah seharusnya berterima kasih ketika masih ada wartawan (jurnalis) yang mau dan peduli melakukan kontrol sosial untuk perbaikan tata kelola pemerintahan yang dinilai amburadul dan brutal itu hingga mengakibatkan APBN bangkrut.
Penulis: Pemimpin Redaksi RADAR JATIM.CO. Drs. Sahar Sulur
