Foto: Para tokoh masyarakat Bawean bersama pejabat BKSDA Kabupaten Gresik usai gelar penilaian konservasi cagar alam Pulau Bawean
Gresik | www.radarjatim.co—Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA bersama para Tokoh masyarakat Pulau Bawean menggelar diskusi tentang penilaian efektivitas konservasi cagar alam Pulau Bawean Jatim dalam upaya untuk meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi cagar alam dan suaka margasatwa di Pulau Bawean
Kegiatan diskusi Ini Bertempat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Gresik, hasil tersebut digelar oleh pihak BKSDA Jatim dua tahun sekali. Dengan sistem penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT).
Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan Balai Besar KSDA Jatim Nur Rohman mengatakan, berdasarkan penilaian dua kawasan suaka margasatwa dan cagar alam di Pualu Bawean cukup efektif.
“Sangat bagus, dan cukup efektif dua kawasan itu,” tegasnya, Kamis (23/9/2021).
Kendati demikian, menurut Nur Rohman ada hal yang harus ditingkatkan lagi. Seperti efektifiktas kegiatan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.
“Ke depan harus ada ada sinergitas kerja sama bersama elemen masyarakat (.Pokmas,LSM dll pihak pemerintah desa, kecamatan, dan Kabupaten Untuk pengelolaan alam di Bawean,” ujarnya.
Ditegaskannyq, saat ini pihak BKSDA akan melakukan kegiatan pengawetan satwa yang di Bawean. “Dalam artian pengawetan itu bagaimana satwa dan fauna di Bawean tidak punah,” imbuhnya.
Atas dasar itu, pihaknya bersama Balai Konservasi Bawean beserta tokoh dan masyarakat Bawean akan terus melakukan program pembinaan habibat, monitoring, dan lainnya.
“Dari hasil nilai METT ada peningkatan mulai 2019 sampai 2021. Konservasi fauna dan saatwa meningkat. METT senidir salah satu metode moniroting Bksda Jatim. Yang diharapkan dalam jangka tersebut ada perubahan, perbaikan dan peningkatan,” paparnya.
Kepala Resort Konservasi Wilayah 11 Pulau Bawean Nur Symasi menjelaskan, pihaknya turut berterimahkasih kepada masyarakat Bawean atas peningkatan kawasan konservasi di Pulau Bawean.
“Ini merupakan kepentingan dan manfaat untuk warga Bawean. Mulai dari bekerja sama kinerja patroli, operasi, edukasi, dan pengamanan,” katanya.
Ditambahkan, kawasan cagar alam Bawean 4.556, 6 hektar di Pulau Bawean mengalami peningkatan, ini juga berkat dukungan dari masyarakat serta peningkatan dalam hal perlindungan alam untuk masyarakat.
“Bentuk patroli dalam menjaga alam untuk masyarakat. Sudah ada kesadaran dari masyarakat. Tinggal tata batas kawasan (TBK) yang masih belum. Oktober ini akan dilakukan. Untuk memperjelas kawasan. Tentu akan ada peran penelitian dari para akademis dan aktivis lingkungan di Bawean,” ujarnya diamini Pegiat lingkungan dan konservasi mapala STAIHA Heri Susanto.
Perkumpulan Peduli Konservasi Bawean Muhammad,SE mengatakanari dari hasil penilaian yang semakin meningkat di angka skor 78 itu diharapkan untuk kepentingan semua pihak dan keterpaduan pengelolaan dengan kerjasama kemitraan serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya,tegas Mukje sapaan akrab Muhammad
Dalam acara diskusi itu perwakilan tokoh Bawean menyampaikan saran dan pendapat pada BKSDA Kabupaten Gresik agar lebih proaktif meningkatkan pengawasan terhadap konservasi cagar alam dan suaka margasatwa serta tindakan tegas pada siapapun yang melanggar peraturan (UU) KSDA seperti bagi yang merusak ekosistem dan lingkungan sekitarnya
Ditegaskan juga bagi warga yang memiliki penangkaran satwa rusa Bawean yang belum memiliki ijin mesti ditertibkan dan ditindak tegas, ungkap salah satu tokoh pemuda
(Red)
