MADIUN || RADARJATIM.CO ~ Kabut kesedihan mendalam masih menggelayuti kediaman keluarga Taruno Hidayat dan Tihwin Nuryanto di Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun. Kakak beradik tersebut hingga kini belum diketahui nasibnya setelah Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang mereka tumpangi terbalik di perairan Laut Jawa beberapa waktu lalu.
Untuk mempercepat proses identifikasi, pihak keluarga telah menyerahkan sampel DNA di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim pada Kamis pekan lalu. Namun di balik proses medis tersebut, pihak keluarga harus melewati perjuangan panjang yang menguras energi demi mendapatkan kepastian informasi resmi.
Ety Nuryanti, istri dari Tihwin Nuryanto, menuturkan bahwa suaminya bertolak menuju Banjarmasin dengan mengendarai mobil pick-up demi mengantar sayuran milik Tulus, warga Morang. Tihwin berangkat dari rumah pada hari Kamis dan baru naik ke atas kapal pada Sabtu siang. Pihak keluarga awalnya tidak mengetahui nama armada kapal yang ditumpangi kedua korban.
“Sebelum berangkat, perasaan saya sebenarnya sudah tidak enak,” kenang Ety, Rabu (23/9/2026).
“Saat berada di atas kapal, suami sempat video call dan mengobrol dengan anak-anak. Katanya baru berlayar sekitar satu jam. Setelah itu, sekitar pukul 12.00 WIB, sinyalnya langsung hilang.
“Keesokan harinya, Ety tersentak saat melihat kabar di media sosial mengenai kecelakaan kapal rute Surabaya–Banjarmasin. Di tengah kepanikan dan nihilnya informasi resmi yang masuk, pihak keluarga berinisiatif mencari tahu secara mandiri. Beruntung, mereka didampingi oleh Darsiyanto, tokoh masyarakat sekaligus Ketua RW setempat, yang dengan sukarela membantu mengurus segala keperluan keluarga, termasuk ikut mendampingi wira-wiri menempuh perjalanan darat ke Surabaya demi mencari manifest penumpang di agen tiket. Dari perjuangan itulah, data nomor kendaraan korban akhirnya berhasil terkonfirmasi berada di dalam KM Virgo Transport 8.
Soroti Lambatnya Koordinasi Otoritas Terkait
Salah satu Tokok masyarakat sekitar yang enggan disebutkan namanya, yang mendampingi langsung proses ini sempat menyayangkan lambatnya koordinasi dan respons awal dari pihak pemangku kebijakan setempat. Menurutnya, di masa-masa krusial awal pasca-kejadian, pihak keluarga sempat kebingungan mencari pegangan informasi resmi maupun dukungan psikologis.
“Pihak keluarga ini sangat bingung harus berbuat bagaimana. Mestinya ada yang menuntun atau setidaknya ada aparat yang mengarahkan mereka sejak awal kejadian,” ujarnya.
Tokoh masyarakat tersebut juga membeberkan, akibat minimnya bimbingan atau asistensi dari otoritas terkait pada hari-hari pertama, laporan resmi mengenai orang hilang pun baru bisa dilayangkan ke pihak kepolisian pada hari ke 10 pasca-kejadian.
Pemdes Kare Bantah Tinggal Diam, Tegaskan Komitmen Dampingi Warga
Merespons dinamika tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Kare langsung angkat bicara guna meluruskan informasi sekaligus menjaga keberimbangan pemberitaan. Kepala Desa (Kades) Kare, Sunarno, menegaskan bahwa pihak desa sejak awal telah menaruh perhatian besar dan melakukan berbagai upaya nyata untuk meringankan beban keluarga korban.
“Selama ini pihak desa juga sudah berupaya membantu, baik berupa donasi maupun penguatan mental bagi pihak keluarga korban,” terang Sunarno saat dikonfirmasi awak media.
Kades Kare menjelaskan bahwa solidaritas sosial di tingkat desa terus berjalan secara intensif demi menjaga kondisi psikologis keluarga yang sedang dirundung ketidakpastian. Langkah konkret telah diambil untuk memastikan keluarga tidak merasa berjuang sendirian.
“Kita juga mengatur secara bergiliran bagi perangkat maupun warga untuk ikut serta dalam acara doa bersama setiap malamnya,” kata Lurah Sunarno menambahkan.
Menyadari bahwa proses pencarian di perairan Laut Jawa serta pengurusan administrasi masih memerlukan waktu, Pemdes Kare berkomitmen penuh untuk mengawal warganya hingga mendapatkan kejelasan informasi yang valid dari otoritas keselamatan laut.
“Menurut kami kedepannya (proses ini) masih panjang, dan pihak desa juga akan membantu semaksimal mungkin dalam mendampingi serta memfasilitasi kebutuhan warga kami,” pungkasnya.
Di sisi lain, harapan besar masih terus dirapalkan oleh sang ibu, Taniati. Ia berharap kedua buah hatinya bisa segera ditemukan dalam kondisi selamat. “Saya memohon bantuan agar anak-anak saya cepat ditemukan dan bisa pulang dengan selamat. Anak saya hanya Taruno dan Tihwin itu,” harapnya lirih saat ditemui di kediamannya.
(Red)
