Gresik | RADARJATIM.CO~Siapa gerangan yang tak kenal dengan sosok lelaki paruh baya ini. Pria berperawakan atletis ini kerap disapa Afys atau nama lengkapnya Ahmad Fatah Yasin. Lelaki asal Kecamatan Tambak Bawean ini telah banyak mengubah wajah peradaban bangunan dari yang paling sederhana menjadi bangunan bernilai arsitektur kekinian.
Kekuatan daya imajinasi dari seorang Afys tatkala menyeket sebuah bentuk bangunan selalu mempertahankan dimensi kearifan lokal sebagai wujud karakteristik karya-karyanya. Bangunan rumah, tempat ibadah, perkantoran, hingga desain rumah makan, dan lain-lain di Pulau Bawean banyak mendapat sentuhan arsitek bertangan dingin tersebut.
Baru-baru ini, Sabtu, 9 Maret 2022 sempat terjadi pertemuan empat mata antara Bupati Gresik, H. Fandi Ahmad Yani dengan Afys di ruang kerja dinasnya. Bupati yang terkenal humanis ini mau menerima kunjungan warganya tanpa harus melewati keprotokoleran yang ketat dan rumit. Hakikatnya Bupati ini adalah milik rakyat sehingga rakyat berhak untuk menjumpainya dalam kapasitas hajat keperluan tertentu.
Kehadiran seorang Afys di ruang kantor dinas Kabupaten Gresik ini dalam rangka dimintai tolong oleh Gus Yani untuk meredesain atau menyederhanakan kembali desain alun-alun Kecamatan Sangkapura sesuai dengan keterbatasan dana yang ada. Rencana sementara dana akan dipetikkan dari CSR (Corporate Sosial Responsibilty) dari berbagai perusahaan atau bentuk badan usaha lainnya.
Bupati, H. Fandi Ahmad Yani memilih menggandeng Afys sebagai arsitek untuk meredesain alun-alun Kecamatan Sangkapura berdasarkan bukti-bukti banyaknya bangunan di Pulau Bawean sebagai hasil karyanya. Arsitek bertangan dingin ini dianggap memiliki kemampuan yang berjiwa adiluhung tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai kearifan lokal sebagai ciri penanda karakter bernilai ke-Baweanan.
Betapa terlihat adanya kesan dipaksakan bangunan sebuah tugu yang berada di tengah alun-alun Kecamatan Sangkapura tanpa ada sedikit karakter kedaerahan. Seolah-olah bangunan yang ada selama ini merupakan bentuk pemaksaan ide dari luar sebagai usaha kenang-kenangannya dari pejabat tertentu.
Warga Pulau Bawean sendiri merasa tercenung dan berpikir dengan bangunan tugu yang ada di tengah alun-alun Kecamatan Sangkapura. Semestinya ikon yang dijadikan maskot untuk tugu atau monumen lainnya diambilkan dari ciri khas dari flora dan fauna yang ada di Pulau Bawean. Alangkah indah dan bersahajanya bila lambang tugu atau monumen itu berupa Rusa Bawean (Axis Kuhli) dan Elang Bawean (Kalekoy).
Selevel seagame saja pihak panitia penyelengara menjadikan atung atau kepala Rusa Bawean sebagai maskot kebesarannya. Artinya, pemerintah pusat yang notabene jauh dari jangkauan Pulau Bawean justru mendesain logo sea game dengan atung Rusa Bawen karena dianggap unik tiada duanya di dunia ini.
Tentunya, hal ini merupakan upaya untuk mengawetkan kekayaan flora dan faunan khas asal Pulau Bawean.
Semua itu dapat diabadikan dengan pembuatan monumen Rusa Bawean atau kekhasan lain yang dianggap memiliki nilai eksotisme. Kiprah Afys selama ini tidak hanya terlihat di Pulau Bawean dalam penciptaan karya-karyanya akan tetapi juga dapat dilihat di beberapa tempat di kota Malang yakni berupa bangunan dan area wisata sebagai buah tangannya.
Perjalanan akademis seorang Afys yang semula diterima lewat jalur PMDK di kedokteran gigi Universitas Jember, tiba-tiba memilih berkuliah di jurusan arsitektur. Di sinilah kekuatan dari sebuah panggilan jiwa sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Semoga redesain bangunan alun-alun Kecamatan Sangkapura yang sudah masuk dalam agenda pemerintahan Kabupaten Gresik berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Sukses!
Penulis : Sugryanto
