Gtesik | www radarjatim.co~Perhelatan PON XX (2021) di Irian Jaya baru-baru ini telah menghantarkan seorang atlet olahraga sepak takraw asal BATAM (Bawean-Tambak,red) dalam meraih juara.
Tahun ini torehan sejarah dari tim sepak takraw asal Provinsi Jawa Timur berhasil menggondol juara 1. Piala yang disabetnya tidak tanggung-tanggung yaitu piala emas sebagai persembahan yang cukup membanggakan. Salah satu anggota tim yang turut ambil bagian dalam laga sepak bola berbahan rotan atau penjalin ini berasal dari Dusun Sumber Lanas Desa Telukjatidawang Kecamatan Tambak Bawean-Gresik.
Selama latihan kurang lebih empat tahun lamanya untuk persiapan mengikuti PON XX, akhirnya membuahkan hasil yang gemilang.
Sejak menduduki bangku Madratsah Ibtidaiyah Sumber Lanas kelas 3, bakat dan kegemaran Farid terhadap permainan olahraga sepak takraw mulai terlihat. Potensi dari bakat yang dimiliki seorang Farid terus meroket seiring dengan semangat berjibaku untuk menjadi yang terbaik dalam permainan sepak takraw. Farid juga mengungkap bisa besar dan melambung namanya seperti saat ini berkat kesabaran dan ketelatenan seorang pelatih Bapak Nurul Yakin. Kiat dan teknik bermain sepak takraw yang sudah dipelajarkan kepada Farid akan tetap terpatri di dada untuk selamanya.
Farid pun tak lupa berucap terima kasih kepada pelatih dan semua pihak yang telah memberikan bantuan moral dan materi hingga mencapai sukses seperti saat ini. Perjuangan tanpa lelah menjadi karakter seorang Farid. Walau beberapa kali mengalami cedera kaki dan anggota tubuh lainnya, baik di saat latihan maupun dalam laga kejuaraan, semangat seorang Farid tidak pernah kendor. Teriakan histeris dan jerit kesakitan di saat peristiwa cedera menimpa dalam laga tetap saja dianggapnya sebagai tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh semangat.
Sedikit pun nyali Farid tak kendor walau harus rasa sakit yang dialaminya. Apalagi di masa kanak-kanaknya, Farid terkenal sebagai sosok pemberani dalam menghadapi persoalan hidupnya dengan cepat mengambil keputusan. Salah satu keputusan dalam benak seorang Farid yang begitu kuat sebagai keinginannya untuk menjadi orang sukses. Sebagaimana kesuksesan meraih prestasi dalam olahraga sepak takraw hingga melaju dan meraih piala emas di tingkat nasional bersama timnya.
Permainan olahraga sepak takraw ditekuninya sejak bersekolah di MI kelas 3 Sumber Lanas. Lulus dari MI, Farid melanjutkan studinya ke MTs Ma’arif 1 Telukjatidawang. Barulah kemudian Farid melanjutkan jenjang pendidikannya di MA Miftahul Ulum Sokaoneng Tambak.
Di setiap jenjang sekolah, Farid selalu membawa nama keharuman sekolahnya dengan kebolehan tapak kakinya dalam olahraga sepak takraw. Sekolah atau madratsah lainnya merasa ketar-ketir bila tim sepak takrawnya harus berhadapan dengan tim sepak takraw sekolah Farid.
Ketangguhan tim-tim sekolah atau madratsah lain sudah bisa menebak di setiap kejuaran bila harus ketemu dengan tim sepak takraw Farid. Pengalaman paling berkesan saat bertanding mewakili sekolahnya di event O2SN di Jakarta tahun 2009. Farid banyak belajar dari rival-rival terkuatnya hingga bisa menaklukkannya.
Di tim sepak takraw Provinsi Jawa Timur, suami dari Maulidiyah dan ayahenda dari Farizah Sabrina Azzahra ini menduduki sebagai smasher. Warga Pulau Bawean sudah menyaksikan bersama penayangan siaran langsung lewat media elektronik mengenai kedahsyatan permainan tapak kaki seorang Farid yang mampu melumatkan kekuatan lawan. Walau demikian lelaki kelahiran tahun 1996 ini tetap tidak melupakan rekan setimnya.
Nama-nama rekan setimnya sempat terlontar dari seorang Farid walau sekadar nama panggilannya semata antara lain; Syamsul Hadi, Saiful Rijal, Surya, Jimmy, Muin, dan Hari. Hal ini menandakan bahwa tim Meraka benar-benar solid dan kompak dalam berjibaku untuk meraih juara. Benar-benar “tim work” yang handal dan patut dibanggakan.
Tatkala lelaki paru baya pesuka ayam bakar dengan tinggi postur tubuh mencapai 172 cm ini harus pulang kampung setelah TAPAK KAKINYA MEMBAWA KEHARUMAN sepertinya disambut dengan sedingin salju. Tak terlihat acara seremonial penyambutan kepulangan seperti atlet di daerah lain yang sampai diarak atau dilakukan pengalungan bunga saat sampai di Pulau Bawean sebagai tanda penghargaan.
Eksistensi seorang Farid yang bersusah payah menorehkan sejarah olahraga sepak takraw hingga sampai ke tingkat nasional seperti tiada yang mau memberikan perhatian secara berlebih. Walau demikian Farid sekeluarga tetap berbesar hati hidup di rumah sederhana bersama keluarga dalam meraih impiannya.
Kini, Farid menetap hidup di Desa Gelam ikut bersama istri dan buah hatinya yang masih berumur 4 bulan. Rupanya, piala emas yang diraihnya dipersembahkan pula buat buah hatinya.
(Sugri)
