RADARJATIM.CO ~ Upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat lanjut usia (lansia) terhadap pentingnya pemenuhan gizi terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Fortisia (Fortifikasi Pangan untuk Lansia). Program yang dilaksanakan oleh dosen Program Studi S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bersama tim pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung pada Juli hingga September 2026, bermitra dengan Yayasan Bina Cendekiawan Bangsa di Kota Malang.
Kegiatan ini diketuai oleh Paramita Viantry, S.Gz., Dietisien., M.Biomed, dosen Program Studi S1 Gizi Unusa. Program Fortisia berfokus pada edukasi anemia, pemahaman mengenai zat gizi mikro, serta pemanfaatan pangan fortifikasi sebagai salah satu upaya pencegahan anemia pada lansia.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi pada kelompok lanjut usia. Seiring bertambahnya usia, perhatian terhadap asupan zat gizi menjadi semakin penting untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan mengenai anemia dan upaya pencegahannya menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Melalui Program Fortisia, peserta mendapatkan edukasi mengenai pengertian anemia, faktor-faktor yang berkaitan dengan anemia pada lansia, peran zat gizi mikro, serta pengenalan pangan fortifikasi. Materi disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami agar peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memberikan edukasi kepada lansia, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengelola dan pendamping di lingkungan Yayasan Bina Cendekiawan Bangsa. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat mendukung keberlanjutan penyampaian informasi kesehatan dan gizi, sehingga edukasi tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai dilaksanakan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan berdasarkan pengukuran melalui pre-test dan post-test. Peningkatan tersebut terlihat pada seluruh indikator yang diukur. Pengetahuan tentang anemia, Pengetahuan mengenai zat gizi mikro, pengetahuan tentang pangan fortifikasi dan pengetahuan mengenai pencegahan anemia.
Hasil ini menggambarkan adanya perubahan positif pada pemahaman peserta setelah memperoleh edukasi. Meski demikian, peningkatan pengetahuan perlu diikuti dengan pendampingan dan penerapan kebiasaan makan yang sesuai agar manfaat kegiatan dapat berkelanjutan.
Ketua pelaksana, Paramita Viantry, menyampaikan bahwa Program Fortisia diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi lansia. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga mitra, dan masyarakat, edukasi gizi dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif untuk mendukung kualitas hidup kelompok lanjut usia.
Ke depan, keberlanjutan program diharapkan dapat diwujudkan melalui penguatan peran pendamping, pemanfaatan materi edukasi, serta integrasi kegiatan dengan aktivitas pembinaan lansia yang telah berjalan di lingkungan yayasan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak hanya menjadi hasil evaluasi kegiatan, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk menerapkan perilaku hidup sehat dalam keseharian.
Melalui kegiatan ini, Unusa bersama Yayasan Bina Cendekiawan Bangsa menunjukkan komitmen dalam mendukung peningkatan literasi gizi masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia, melalui pendekatan edukasi dan kemitraan yang berkelanjutan.
