Site icon Radar Jatim

Calon Tunggal Melawan Kotak Kosong di Pilkada Gresik 2024, Ketakutan Terbesar Parpol

Oplus_131072

Penulis : Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono, S.IP, M.IP

 

Gresik | radarjatim.co. ~ Fenomena kotak kosong disejumlah daerah pada Pilkada serentak 2024 membuat masyarakat tidak mempunyai pilihan calon pemimpin dan terjadinya krisis demokrasi.

Khususnya, di Jawa Timur, sejumlah daerah memunculkan lawan kotak kosong atau disebut bumbung kosong. Seperti di pilkada di Gresik yakni bakal paslon Gus Yani-dr Alif. Kemudian, di Trenggalek, Ngawi, Surabaya, dan Pasuruan.

Menanggapi fenomena kotak kosong, Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono, S.IP, M.IP mengungkapkan pasca Pemilu Pilpres bahwa masyarakat berharap kembali pilar-pilar demokrasi. Namun, nyatanya tidak terjadi di Pilkada.

“Aku melihat (fenomena bumbung kosong ini) ada beberapa Prespektif. Ya salah satunya kepentingan kekuasaan,” Lasiono, Jumat (30/8/2024).

Menurutnya, bumbung kosong mencerminkan kegagalan partai politik dalam membangun kepercayaan dan elektabilitas di mata masyarakat.

“Artinya, kekuasaan bukan hanya soal menang atau kalah. Tetapi, kesan kemampuan membangun kepercayaan dan simpati masyarakat,” jelasnya.

Lasiono menerangkan apabila partai- partai politik tidak percaya pada kemampuan elektabilitasnya. Maka, parpol enggan mengusung calon yang menunjukkan kepercayaan diri. Bahkan, ini menunjukkan kegagalan dan fungsi parpol.

“Partai politik itu kan selalu siap dengan calon yang diusung, namun realitas politik tahun ini karena banyak partai yang tidak siap,” ucapnya.

“Partai politik tidak mampu melakukan seleksi dan kaderisasi yang efektif. Itu yang terjadi, fenomena seperti itu (bumbung kosong),” tambahnya.

Selain itu, aktivis 98 ini menilai bumbung kosong ini juga membuat hilangnya alternatif pilihan untuk masyarakat.

“Jadi masyarakat tidak diberikan calon alternatif, karena kontraknya gini, demokrasi kan antara manusia dan manusia bukan manusia dengan kotak kosong,” tuturnya.

Maka, lanjut Lasiono, tidak terjadi dialog adu gagasan. Ketika calon melawan kotak kosong, sudah dipastikan masyarakat kehilangan kesempatan untuk memilih.

“Ini demokrasi yang tidak sehat, kalau ini yang terjadi ini tidak sehat demokrasi ini,” tegasnya.

Khusus bumbung kosong di Gresik tambah Lasiono, ia menilai partai-partai politik tidak mampu mencetak kader sesuai fungsinya. Menurutnya kredibilitas partai diragukan dalam kaderisasi.

“Sampai saat ini kan partai-partai enggak mampu memunculkan calon (Kaderisasi) terbaiknya. Ini kan pertaruhan,” terangnya.

Lasiono menilai masyarakat sekarang sudah cerdas menentukan pilihannya. Ia menyebut masyarakat Gresik bisa menilai pasangan Yani – dr. Alif melalui rekam jejak kinerja.

“Masyarakat sekarang sudah cerdas, tinggal menilai apakah Yani selama lima tahun ini sesuai dengan keinginan masyarakat Gresik atau tidak. Masyarakat yang akan menentukan pilihannya,” tutupnya.

(Muk)

Exit mobile version