Kawasan Mengare Bungah Terdampak Pencemaran Lingkungan dan Pembangunan Infrastruktur Terabaikan

Banyak ikan mati di pinggir Tambak di Kawasan Mengare Bungah Gresik akibat  kepanasan dan air tawar kurang, air payau membuat ikan dan udang sulit hidup. Selain itu Kawasan Mengare telah banyak ada proyek urugan dan reklamasi, ada dugaan tanah urugan yang mengandung racun, sehingga ikan di tambak keracunan dan mati ,Selasa (29/9/2020) 

 

GRESIK [RADARJATIM.CO-Di Kawasan Pulau Mengare terdiri dari tiga Desa, yaitu Desa Kramat, Tanjung Widoro, dan Watu Agung Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik, masih ada dugaan pencemaran lingkungan, serta pembangunan infrastruktur yang bisa dibilang sebagai bentuk menganak tirikan Mengare, oleh Pemerintah Kabupaten Gresik dan Propinsi, serta Pemerintah Pusat.

Kawasan Mengare sebagai bagian dari pembangunan serta pengembangan Kawasan Industrial, yaitu JIIPE dan Kawasan Industri Maspion, serta “Industri Tambak Ikan dan Udang”. Berbagai lomba Ikan Bandeng, maka Bandeng Mengare sering menjadi juara 1 di Kabupaten Gresik, namun Pemerintah Kabupaten Gresik dan Jajaran Pemerintahan di atas Kabupaten, masih belum melakukan beberapa program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga :  Pelantikan Majelis Pembimbing Pengurus Kwartir Ranting Gerakan Pramuka di Pulau Bawean

Kepala Desa Watu Agung Mengare, Rozi menyampaikan ke awak media saat di Balai Desa Watu Agung ada Pembagian BLT DD Bulan ke 4 sebesar Rp. 300.000/KPM. Rozi menyampaikan “Selama ini sesuai instruksi pemerintah, Dana Desa atau DD tidak boleh untuk pembangunan infrastruktur desa, difokuskan pada BLT DD dan Penanganan Covid-19, sehingga walaupun di Mengare dan Desa Watu Agung masih minim infrastruktur jalan poros dan jalan desa, ya kami ikuti saja pak. Selain itu sejak ada kawasan industri di sekitar Mengare Pendapatan Nelayan Ikan menjadi berkurang 80%, sehingga pendapatan sebelumnya 100% menjadi hanya 20% saja”Selasa (29/09/2020).

Baca Juga :  Saat Safari Sholat Jum'at, Kapolres Sumenep Berikan Nasehat dan Himbauan Kamtibmas

Proyek Pavingisasi di Jalan Poros Desa Karangrejo menuju Mengare tidak ada Papan Informasi Proyek, dan sering terjadi kecelakaan akibat  pengendara terpeleset di lokasi proyek pavingisasi.

Sementara itu di sisi lain, seorang Petani Tambak Mengare bernama Yasin, menyampaikan ke awak media “Tambak pendapatan berkurang pak, biasanya dapat 100 kg ya jadi 20kg saja, selain itu air Mengare menjadi Payau atau campuran asin dan tawar, jadi banyak rasa asinnya, ikan – ikan tidak tahan lama di air payau. Untuk bisa dicampur air tawar, kami bisa memompa air tawar ke tambak jam 1 malam, saat air pasang atau air sungai tawar naik. Selain itu banyak tanah urugan dan atau reklamasi untuk industri yang kayaknya tanahnya agak beracun, sehingga ikan dan udang tambak sulit hidup” Selasa (29/09/2020).

Saat ini awak media melihat ada proyek pavingisasi di Jalan Masuk Desa Karangrejo Manyar kemudian Desa Bedanten Bungah, serta menuju Mengare. Namun proyek pavingisasi ini tidak ada Papan namanya, seharusnya papan proyek ada tulisan nama proyek, pelaksana proyek, nilai anggaran proyek, sumber anggaran proyek, dan waktu pelaksanaan proyek.

Baca Juga :  Kawasan Physical Distancing Menutup Dua Ruas Jalan Di Surabaya

Saat awak media mendatangi salah satu pekerja proyek pavingisasi, pekerja proyek yang enggan menyebut namanya, mengatakan ke awak media “Ini Proyek Pavingisasi dari Dinas PU pak, saya gak tahu siapa pimpinan proyek dan kapan selesainya proyek ini, maaf jangan ganggu saya kerja pak, silahkan bapak pergi” Selasa (29/09/2020). Menurut informasi yg masuk, sering terjadi kecelakaan lalu lintas atau pengendara jatuh, saat melewati proyek pavingisasi dan debu masuk ke warung – warung yang ada di dekat proyek pavingisasi tersebut.

Reporter: Hari Susilo