BUDAYA  

GEPAL Gresik Gelar Aksi dan Diskusi Dengan Tema Matinya Demokrasi

Acara Diskusi Refleksi Gerakan Penolak Lupa dan Matinya Demokrasi oleh GEPAL Gresik, Abdul Wahab sebagai Moderator dan Ketua Tim GEPAL, saat memimpin Diskusi Refleksi dan Matinya Demokrasi Jum’at (4/9/2020 )

 

GRESIK [RADARJATIM. CO- Penggerak Utama dan Tokoh dalam Gerakan Penolak Lupa atau GEPAL Kabupaten Gresik, Abdul Wahab mengkritisi dan mengevaluasi pemerintahan di Kabupaten Gresik Hari ini, serta isu – isu kerakyatan dan kemanusiaan sebagai isu utama.

Diskusi GEPAL dilaksanakan di Pendopo Alun – Alun Kabupaten Gresik, serta sekarang berubah menjadi “Eks Alun – Alun dan Islamic Centre, sebagai bagian yang didiskusikan”. Diskusi GEPAL diikuti puluhan masyarakat dan anggota GEPAL, serta kelompok pemuda di Kabupaten Gresik. Suasana Diskusi diterangi lilin – lilin mengelilingi ruang diskusi, serta digelar dengan beralaskan tikar dan karpet.

Menurut Wahab atau AW saat menyampaikan kata pengantar dalam Pembukaan Diskusi GEPAL, AW menyampaikan “Diskusi malam ini dengan tema Matinya Demokrasi, menunjukkan adanya persoalan kemanusiaan dan sosial, serta politik yang serius untuk didiskusikan, sehingga perlu dikritisi dan dicarikan solusi serta gerakan, sehingga demokrasi di Kabupaten Gresik Hidup Kembali” (04/09/202).

Baca Juga :  Aktivis Muda Madura Bentuk Organisas AMI Sebagai Wadah Pemersatu Putra Putri Madura Se-Indonesia

Syafik Udin Kc atau Udin biasa dipanggil, sebagai Koordinator Umum GEPAL, menyampaikan materi diskusinya “Bahwa di Gresik sudah tidak ada lagi nilai – nilai demokrasi serta kemanusiaan, banyak dibangun mall dan bangunan – bangunan tanpa manfaat, sementara masyarakat butuh pekerjaan, serta perekonomian yang berbasis kemanusiaan. Contoh saja kita buruh upah cuma berapa, pasti hampir sama dengan Pegawai Satpol PP Kabupaten Gresik yang masih baru – baru, itu tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari – hari, serta kebutuhan pendidikan di Gresik” Jum’at (04/09/2020).

Publikasi GEPAL Gresik gelar Aksi dan Refleksi melakukan Edukasi pada masyarakat atas rezim Gresik yang “mematikan demokrasi, nilai kemanusiaan dan Keadilan”

Salah satu pamateri bernama Arif, seorang Tokoh Pemuda Gresik, serta Pengacara Bupati Lumajang menyampaikan materinya “Di Kabupaten Gresik, ada banyak Destinasi Wisata Religi, berupa Makam Wali yaitu Sunan Giri. Makam Sunan Giri bukan hanya sekedar makam saja, namun sebagai Destinasi Menimba Ilmu Sejarah dan Pendidikan, sehingga banyak ilmu yang didapat, serta bisa dikembangkan sebagai bagian dalam mempelajari sejarah wali, edukasi bernilai religi, dan lainnya. Maka Makam Wali sebagai sosial budaya dan ruang edukasi bagi masyarakat, sehingga multi fungsi dan manfaatnya” Jum’at (04/09/2020).

Baca Juga :  Camat Balongpanggang Hadiri Karnaval Banjaragung

Arif menambahkan masalah Alun – Alun Gresik ini, sudah ada sejarahnya dan fungsi sosial budayanya, sebagai kearifan lokal, bukan kemudian bisa dirubah seenaknya seperti sekarang. Maka akhirnya bukan Alun – Alun sekarang ini, namun jadi eks Alun – Alun Gresik. Ditandaskan Arif, seharusnya seorang pemimpin suatu daerah, memahami nilai – nilai sosial budaya warganya, kemudian menjaga kearifan lokal, serta memajukan kesejahteraan rakyatnya. Maka seharusnya bangunan landmark atau tetenger itu, mempunyai manfaat sosial dan budaya, serta ekonomi yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan hanya sekedar tugu tanpa manfaat.

Baca Juga :  Temu Kangen Alumni SDN Dukuh Kupang 1. Angkatan 1993-1994

Wahab menyampaikan pula, rangkaian Acara GEPAL mulai tanggal 3-5 September 2020, yaitu tanggal 3 September 2020 dilakukan Aksi Refleksi Matinya Demokrasi di DPRD Kabupaten Gresik, serta ngaji dan doa bersama, pukul 08.00 WIB sampai selesai. Kemudian tanggal 4 September 2020 Pukul 18.00 WIB Diskusi Publik dengan tema Raport Merah Rezim, kemudian tanggal 5 September 2020 Pukul 18.00 Diskusi dengan Tema Matinya Demokrasi dan Musikalisasi,Jum’at (04/09/2020).

Ditambahkan Wahab harapannya Aksi dan Diskusi sebagai bagian dari Aksi Nyata dan Refleksi, serta Edukasi kepada masyarakat atas matinya demokrasi dan kemanusiaan, serta nilai – nilai keadilan di Kabupaten Gresik, serta Rakyat Tidak Melupakan atas Kejahatan Rezim dan tetap sebagai bagian dalam Gerakan Demokrasi Pro Rakyat.

Reporter: Hari Susilo