DRACULA MINI” PENGHUNI PERMANEN KMP. GILI IYANG”

Gresik | RADARJATIM.CO ~ Sudah turun-temurun warga Pulau Bawean dalam posisi teremehkan. Sejak beroperasinya kapal berbadan usaha milik negara atau pemerintah tak pernah mendapat sentuhan kenyamanan dan keamanan secara memadai. Betapa di zaman dahulu kepal Mandalika berbahan besi melepas sauh beberapa mil dari bibir pantai Pulau Bawean sehingga terlihat samar.

Padahal di balik itu sebenarnya juga ada “main mata” dengan pemilik sampan agar calon penumpang, baik yang dari daratan Gresik maupun dari Pulau Bawean menjadi berbayar dua kali yakni tiket kapal dan pungli karcis sampan. Tentu, pemilik sampan tidak menutup mata kepada “pemain” di kapal yang bertugas sebagai “depkolektor” buat pesta pora kecil-kecilan di luar gaji pokoknya. Termasuk oknum kelakuan kapal-kapal berbahan besi lainnya di masa silam setali dua uang (KM. Kumba, KM. Prajapati).

Itu semua ratapan masa lalu warga Pulau Bawean. Mungkin yang paling nekat kapal besi tua KM. Mekatani yang nekat sandar di “kokop”, gundukan pasir Dusun Songaetopo Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Bawean.

Cerita kapal-kapal milik PT. Pelni seperti KM. Bukit Raya, KM. Pangrangau dan sejenisnya juga tidak mau sandar. Waktu itu dermaganya masih memakai pelabuhan kayu ulin “redok-redok”, atau reot sebagai dermaga naik turunnya penumpang. Padahal dermaga milik PT. Pelindo III sudah beroperasi yang berada di sebelah baratnya berjarak puluhan jengkal tangan balita saja. Setelah ditulis di harian Jawa Pos pada masa silam akhirnya kapal-kapal milik PT. Pelni sandar juga di dermaga milik PT. Pelindo III. Waktu itu diperbandingkan dengan KRI Teluk Ende yang panjang dan besarnya melebihi kapal-kapal milik PT. Pelni tersebut dengan mudah sandar di dermaga tersebut.

Baca Juga :  Kreativitas Digital: Terobosan Baru Menyelami Profil Calon Legislatif 2024 Melalui Ballon.id

Pada waktu itu KRI Teluk Ende membawa pasukan AMD (ABRI Masuk Desa). Hampir saja leher saya jadi tumbal gegara tulisan saya di harian Jawa Pos itu membuat Kepala Cabang PT. Pelni Bawean dijewer oleh atasannya. Alhasil, kapal-kapal milik PT. Pelni tersebut sandar di dermaga Dusun Bheringenan Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura dengan aman sentausa. Orang-orang pemilik sampan yang menjadi join vincernya harus sama-sama gigit jari setelah kapal-kapal milik PT. Pelni akhirnya sandar di dermaga milik PT. Pelindo III tersebut.

Peristiwa serupa yang selalu memperlakukan warga Pulau Bawean sebagai bulan-bulanan adanya persekongkolan antara oknum anak buah kapal cepat dalam hal penjualan tiket dengan sistem percaloan (baca, Bawean: bhekol, makelar) yang menggurita dan pelik penyelesaiannya. Karena warga Pulau Bawean butuh dan sangat tergantung dengan keberadaan beroperasinya kapal cepat akhirnya mau-mau saja dengan “sungguh terpaksa” katanya Bang H. Rhoma Irama. Untung saja saat ini pembelian tiket kapal cepat sudah bisa dibeli secara “online” dan offline zonder percaloan lagi. Warga Pulau Bawean sudah memeroleh pelayanan dan kenyamanan dalam hal perjalanan laut via kapal cepat dengan segala fasilitas yang diberikannya.

Baca Juga :  Pembakaran Emas dan Tembaga di Desa Temuireng Dawarblandong Diduga Bodong

Setelah dilihat secara kasat mata atau memakai penglihatan mata bugil, oknum pelaku percaloan tiket partikelir itu orangnya itu-itu saja. Warga Pulau Bawean harus bersabar menunggu generasi percaloan itu lenyap dari muka bumi alias mampus dan kwalat 13. (Versus gaji ke 13) pola kanibalismenya itu yakni warga Pulau Bawean makan warga Pulau Bawean sendiri. Maklum tak punya pekerjaan lain akhirnya kondisi kepepet hidup kanibalisme alternatifnya.

Paling terkini, setelah sekian tahun lamanya pihak pemerintah melalui PT. ASDP mengoperasikan KMP. Gili Iyang muncul persoalan paling sepele tetapi meresahkan penumpang. Penjualan tiket via “online” sudah memberikan kemudahan dan tiadanya percaloan dengan harga tiket berstandar nasional.

Baca Juga :  Putuskan Tak Menikah Seumur Hidup, Ini Jawaban Buya Yahya Menurut Islam

Banyak kemudahan yang telah dinikmati warga Pulau Bawean atas beroperasinya jenis kapal Roro (roll of roll on, red) atau istilahnya kapal maju mundur kena tersebut. Hanya saja hal sepele yang terjadi seperti perbuatan pembiaran dari pihak manajemen kapal yakni adanya hewan tinggi penghuni permanen KMP. Gili Iyang sampai saat ini belum ada pembenahan dan perbaikan pelayanan hingga terkesan hanya diambil untungnya secara komersial.

Ini menandakan bahwa warga Pulau Bawean tetap diberikan fasilitas menyakitkan setelah tidur di ruang VIP sekalipun tetap digigit hewan tinggi (baca, Bawean: gheleta) sang dracula mini pengisap darah penumpang. Tentu, jika dibaca secara tersirat terlihat manajemen kapal milik PT. ASDP tersebut belum totalitas memberikan kenyamanan. Terlihat “kempro” nya atau (baca, Bawean: cepbhenya) dalam hal kebersihan dan keamanan kapal dengan masih suburnya pembudi dayaan hewan tinggi tersebut di ruangan tempat tidur kapal. Sementara ruang kapten dan ABK aman dari hewan tinggi.

Padahal, sebenarnya mereka sebagai pelayan tentunya mengutamakan kenyamanan “raja” sebagai penumpang yang harus dilayaninya. Cihuy!

(Sugri)