DERMAGA BATAL DIRESMIKAN, PUPUS HARAPAN WARGA BAWEAN

Oleh: Sugriyanto

 

Gresik | RADARJATIM.CO.~Pulau Bawean benar-benar mendapat perhatian berlebih, baik dari pemerintahan Kabupaten Gresik maupun pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Perhatian berlebih dimaksud akan pemenuhan fasilitas umum, salah satunya perampungan dermaga penyeberangan “two in one” di Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura. Sebutan dermaga penyeberangan “two in one” ini merupakan kewenangan dinas perhubungan Kabupaten Gresik dan Dinas perhubungan Provinsi Jawa Timur. Sedikit kiranya masyarakat Pulau Bawean perlu mendapat pencerahan bahwa di paling ujung depan dermaga terdapat dua tempat bersandar. Sandaran pertama bernama dermaga plengsengan yang sifatnya tetap atau tidak bergerak naik turun walau air laut mengalami pasang surut. Piranti ini sudah lama beroperasi sejak KMP. Gili Iyang melayani rute segitiga berkawan yakni cinta PBG (Paciran- Bawean- Gresik, red), bukan Persatuan Bawean Gresik.

Pengembangan berikutnya di ujung dermaga yang sama dibangun Pelabuhan Penyeberangan MB (Movable Bridge) yang merupakan persandaran bergerak naik turun menyesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut. Bahasa populernya dermaga “hidrolik” yang bisa bergerak naik turun. Jika pelabuhan penyeberangan MB ini diresmikan maka kapal-kapal berskala besar semisal KM. Derajat dan kapal milik PT. Dharma Lautan yang melayani trayek Surabaya-Kalimantan dan Paciran-Kalimantan atau kapal berskala besar lainnya bisa mampir atau singgah di Pulau Bawean. Istilah lain yang pernah dijlentrehkan oleh mantan kepala UPT Dinas Perhubungan Bawean, Bapak Lutfil Manar sebutannya kapal Deviasi (baca, Bawean: Nyeliut) ke derma penyeberangan Bawean segera terwujud. Tentu warga Pulau Bawean merasa diuntungkan karena sudah tidak ada lagi sebutan kapal bantuan dalam mengatasi angin kencang dan gelombang ektrem di atas dua meter lebih sedikit sekalipun, kecuali sudah ada “warning nasional” baru jalur pelayaran ditutup total. Kenyataannya, dari dulu hingga saat ini (Desember 2023) masih dalam harapan dan keinginan yang terus membuat warga Bawean tergiur dan menelan ludah kepahitan karena belum beroleh kepastian kapan akan diresmikan.

Baca Juga :  Pgs.Kasdim 0817/Gresik Hadiri Peresmian Pelebaran Jalan Ruas Sekapuk-Banyuurip Ujungpangkah

Fakta yang sudah menjadi pengalaman pahit tahunan tatkala BMKG mengeshare kondisi cuaca dan gelombang di atas dua meter lebih sedikit kapal-kapal yang ada selama ini (baik kapal cepat dan kapal Roro) harus stop berkarung di lautan Jawa yakni trayek Bawean-Jawa. Akhirnya, penyeberangan Paciran-Bawean-Greik menjadi lumpuh total. Akibatnya, roda kehidupan di Pulau Bawean turut mengalami kelumpuhan, baik roda perekonomian maupun roda kegiatan mobilisasi warga dengan berbagai keperluan di Pulau Jawa harus digagalkan sepihak karena hendak ikut jalur udara yang kapasitas pesawatnya hanya untuk 12 penumpang dengan antrean beli tiket harus diuji dengan penuh kesabaran. Kasihan pasien yang sudah mengalami sakaratul maut harus tetap bertahan di Bawean sambil menunggu stabilnya angin dan gelombang yang baru lebih dua meter sedikit itu.

Baca Juga :  MENELISIK LIKA-LIKU CALON DOKTOR DARI PULAU BAWEAN

Publik juga harus tahu dan paham berapa banyak korban kehangusan tiket pesawat setelah orang-orang diaspora hendak balik kampung setelah sampai di Bawean karena musim tiba-tiba mengamuk, mau tidak mau pasrah pada keadaan. Hal ini terkadang menyebabkan perasaan trauma bagi warga Pulau Bawean untuk sekadar tengok kampung halaman akhirnya merasa kapok atau jerah permanen. Para turis manca negara dan turis Nusantara harus berpikir seribu kali untuk datang berkunjung ke Pulau Bawean. Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan MB yang menelan biaya relatif besar sekitar 8 milyar dikutip dari Jawa Pos online apad akhirnya tidak sia-sia karena jangka panjangnya bukan sekadar melayani warga Pulau Bawean semata, melainkan menjadi penunjang rencana Pulau Bawean sebagai destinasi wisata andalan Jawa Timur yang latah sebutannya untuk dijadikan “Balinya Jawa Timur” sekadar meminjam istilahnya semata.

Baca Juga :  Minum Kopi Tiga Cangkir Sehari Bikin Liver Sehat

Rasa penasaran dan mengundang tanya tentang terjadinya pembatalan untuk diresmikan atau penundaan diresmikan yang belum ditemukan jawaban pastinya. Padahal, Ibu Gubernur Hj. Chofifah Indarpawansa sebelum menjabat gubernur yakni sebagai ketua Muslimat NU sering datang ke Pulau Bawean dalam kondisi apapun. Sebelum Ibu Gubernur demisioner atau berhenti dari berakhirnya masa jabatan di akhir Desember 2023 ini sempatkan datang berkunjung ke Pulau Bawean untuk meresmikan Pelabuhan Penyeberangan MB yang sudah ditunggu-tunggu realisasinya. Jika nanti harus batal lagi diresmikan maka pupus sudah harapan warga Pulau Bawean dalam memeroleh fasilitas penyeberangan yang sangat diidamkan. Semoga tidak ada pihak yang bermain untuk menghalang-halangi rencana peresmian tersebut. Helikopter dan KRI Surabaya kurang tangguh apalagi untuk mengatasi halangan cuaca ektrem yang mungkin akan terjadi. “Selamat datang Ibu Gubernur dan rombangan di Pulau Bawean”, pekik semangat warga Pulau Bawean.